Selasa, 29 Januari 2008

The Perfect Storm in Sindoro


Pagi yang basah saat bus yang saya tumpangi memasuki terminal bus Wonosobo, masih pagi sekali dan terminal terlihat sepi, teman-teman masih ada yang terbengong-bengong karena baru bangun tidur mungkin tingkat kesadarannya masih setengah. Saya menggendong ransel 80 liter saya menuju bus tiga perempat yang sudah menunggu disamping, bus yang bertrayek Wonosobo – Magelang ini akan kami tumpangi hingga sampai di desa Kledung tempat titik awal pendakian ke Gunung Sindoro di mulai.

Kami berjumlah lebih dari dua puluh orang dan berencana akan merayakan tahun baru 2008 di puncak Sindoro. Tak kala bus melaju tampak sosok Sindoro di sebelah kiri, puncaknya tertutup awan yang menggantung, sepertinya awan hujan. Sekarang musim hujan jadi saya dan teman-teman dah ngga berharap banyak akan mendapatkan cuaca bagus terlebih lagi juga musim badai. Bus terus melaju, hingga akhirnya kami turun di Kledung dan langsung menuju Basecamp Sindoro yang di kelola sekarang oleh seorang pemuda bernama Ragil.

“Mas Ragil ya?” ujar saya saat menyalami seorang pemuda yang keluar dari dalam rumah. “betul mas”, jawabnya sembari tersenyum. “Dari jakarta ya? Berapa orang? Mau naik hari ini?” lanjut pertanyaannya beruntun dan akhirnya saya dan dia tenggelam dalam percakapan mengenai rencana pendakian dan keadaan Gunung Sindoro sekarang, sementara teman-teman mulai sibuk repacking, mengeluarkan barang yang tidak penting untuk di titipkan di basecamp ini karena kami turunnya kembali lewat Kledung ini.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua ke gunung ini, yang pertama pada tahun 1988, kondisi Kledung jauh berbeda sekali dengan sekarang, dan menurut cerita Ragil, perladangan penduduk juga sudah jauh naik keatas. Dewasa ini dari Basecamp hingga ke pos bayangan pos 1 bisa ditempuh dengan ojek dengan tariff sepuluh ribu rupiah. Kalau ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih 2 jam perjalanan dan terdapat empat pos pada jalur pendakian kledung, hanya pada lokasi pos empat tidak begitu jelas letaknya.

Sekitar jam 9 pagi jalan setapak jalur pendakian menuju pos 1 sudah dipenuhi oleh langkah-langkah kami yang bersemangat. Pendakian kali ini ada dua milis yang bergabung, yaitu milis highcamp yang terdiri dari saya, Dipa, Arif, Rona, Dian, Dwi, Ayip, Ella, Irvan, Anno, Rita, Taufik dan Ephot, dari milis Jejak Petualangan ada Nhanha, Kris, Yani dan Bayu. Disamping Ephot juga ikut teman-temannya enam orang, jadilah rombongan kita telah membuat ramai basecamp Sindoro pagi tadi dan sempat membuat sibuk ibu-ibu disana saat kami memesan makan pagi untuk porsi lebih dari dua puluh orang. Pos 1 ke Pos 2 terasa tidak begitu jauh, mungkin itu hanya bagi saya entah bagi teman-teman yang lainnya, seperti biasa perlahan teman-teman mulai terpecah menjadi tiga kelompok jalan, yang cepat, yang sedang dan yang pelan. Namun target perjalanan kami hari ini adalah Pos 3 disana kami akan mendirikan tenda dan bermalam. Kami ingin melakukan pendakian ini dengan santai dan tidak terburu-buru. Jalur pendakian gunung Sindoro lumayan tajam tanjakannya dan medannya cukup terbuka, sayang kabut terus menemani kami sehingga sosok kembarannya yaitu Gunung Sumbing yang tegak berdiri di belakang arah pendakian kami tidak bisa terlihat.

Sekitar jam 2 siang kami sampai di Pos 3, lokasi pos ini cukup besar dan bisa menampung beberapa tenda kami, meskipun kami tidak bisa berkumpul semua tapi ada setidaknya 6 tenda yang bisa didirikan berdekatan. Masih banyak waktu sebelum gelap, begitu tenda berdiri saya menyantap nasi bungkus yang di beli di kledung tadi, lapar sekali kalo harus masak dulu sepertinya ngga sanggup menunggunya. Dalam hitungan menit nasi bungkus berlauk telor ceplok dan sayu tempe tersebut sudah berpindah keperut saya dan lalu saya meluruskan kaki duduk didalam tenda sementara diluar sana kabut makin tebal, angin mulai bertiup dan benar saja berikut pasti gerimis menyusul, untunglah teman-teman semuanya sudah selesai mendirikan tenda. Dipa mulai aktifitasnya memasak ditandai dengan bunyi panci trangianya yang beradu saat menyiapkan kompor, tenda nya Ella sepertinya juga begitu, saya juga mulai memasak air dengan di bantu oleh Rona. Teh manis panas pasti akan nikmat sekali di suhu yang seperti ini.

“wah lumayan pemandangannya, kabut tersibak dikit nih..!!” teriak seseorang dari luar tenda, saya bergegas membuka pintu tenda yang mengarah persis ke arah Gunung Sumbing, dan bener saja sedikit sosok Gunung Sumbing terlihat dan beberapa kampung dibawah sana, lumayanlah cukup untuk memulai sesi foto-foto, dan tanpa dikomando satu persatu teman-teman keluar dari tendanya dan mulai sibuk dengan cameranya masing-masing. Saya mengedarkan pandangan ke arah puncak, dari pos 3 ini puncak tidak kelihatan tertutup oleh punggungan, yang juga ditutupi kabut dan hanya terbuka sesekali, angin bertiup cukup kencang. Ada sepuluh tenda dari rombongan kami, dua tenda yaitu tenda Dwi dan tenda Yani berada dalam dalam semak belukar agak tersembunyi, satu tenda lagi yaitu tenda Taufik member milis HC dari Malang, berada diatasnya masih dalam rimbun belukar. Kemudian tenda Ephot dan teman-temanya ada disebuah pelataran berdampingan dengan tenda pendaki lain yang bukan rombongan kami, dan enam tenda lainnya berdiri berdekatan di daerah yang cukup terbuka. Pos 3 dipilih sebagai lokasi ngecamp adalah karena hanya di daerah ini yang bisa menampung tenda cukup banyak, selepas pos 3 ini tidak ada lagi tempat yang cukup untuk menampung rombongan sebanyak rombongan kami. Dari Pos 3 hingga kawasan puncak masih berjarak sekitar 5 jam waktu tempuh jadi jika diukur dengan jalan santai kami akan molor menjadi 8 jam. Sindoro tidak ada sumber air, jadi untuk bekal memasak dan minum kami memang sengaja membawanya dari Kledung, jika musim hujan begini terdapat genangan air mirip telaga di dalam kawah. Dan bisa digunakan untuk memasak, jadi untuk persediaan air pas bermalam di kawasan puncak esok hari saya tidak terlalu khawatir.

Cukup lama diluar dan kemudian saya kembali kembali kedalam tenda, “masak apa bang?” Tanya Rona saat duduk didekatnya, “pokoknya yang enak deh” jawab saya sembari nyengir. Lalu mulailah sesi acara masak bersama Rona, Dipa dan Dian hebohnya melebihi acara masak Wok With Yan yang terkenal itu. Diluar juga kabut dan angin tidak kalah hebohnya menemani kami di Pos 3, senja perlahan turun rintik hujanpun kadang turun dan berhenti silih berganti. Rona sigap sekali menyiapkan masakan, nasi sudah tanak dan sekarang giliran lauknya, hari ini kami memasak tumis buncis dicampur jagung muda dan dilengkapi dengan telur serta ikan asin, sosis goreng sebagai pelengkap. Tidak begitu lama kemudian hidangan pun siap disantap, sederhana tapi terasa nikmat sekali. Karena cuaca yang tidak mengijinkan akhirnya kami tidak jadi memasak berbarengan dengan teman-teman yang lainnya. Hujan turun semakin deras, “Nhanha mana perkedelnya..?? dah mateng belum?.!! Teriak saya dari dalam tenda, “udah bang, tapi ambil sendiri nih ngga ada delivery service..” jawab Kris, ya hujan-hujan begini jadi males keluar tenda. Hujan semakin lebat diikuti oleh angin dan suara gledek, tenda saya dan Dipa disatukan dengan sebuah flysheet dan dari sana mengucur deras air hujan, saya menarok beberapa misting dan Dipa menarok jerigen air lipatnya, lumayan setidaknya bisa dipakai masak dan cuci-cuci. Angin yang kencang berubah jadi badai, saya mengintip keluar tenda semua putih tertutup kabut alias zero visibility, brrr…. Angin menyeruak masuk tenda, buru-buru saya tutup lagi, kalo begini gagal deh bikin foto glowing tent sindoronya aku membatin sendiri sembari nyengir. Seiring jatuhnya malam dan hujan makin lebat badai semakin kencang, saya diam didalam tenda yang hanya bergetar di terpa badai, ini adalah pengalaman yang kesekian kalinya bagi saya di hantam badai di gunung. Suara hujan, dan kepakan tenda serta flysheet menjadi musik pengiring tidur malam ini dan perlahan suara tersebut menjadi lenyap seiring dengan lelapnya tidur malam itu.

Hari kedua digunung Sindoro, pagi ini tidak aktifitas lain kecuali seputar masak sarapan pagi dan foto-foto, Kabut hanya sesekali beranjak, “bang sory, gue dan teman-teman ngga jadi ngecamp di puncak, gue nga yakin sama tenda gue bang, jadi nanti muncak lansung turun dan kita mau lanjut ke Dieng” jelas Ephot sambil menjabat tangan saya untuk pamitan. “Ok no problem Phot, take care aja, semua temen elo ngikut ya?” jawab saya sembari melihat kearah teman-teman Ephot yang sudah siap packing dan sudah bersiap hendak muncak. Dan rupanya Yani dan Taufik juga ikut dengan mereka, “gue juga ngga jadi ngecamp di puncak, gue juga ngga yakin sama tenda gue.” Jelas Anno juga mengikuti langkah yang di ambil Ephot. Memang tenda milik Ephot dan Anno ngga cocok dipakai gunung saat cuaca lagi banyak angin begini, karena tenda mereka merupakan tenda camping, kapasitas 4 orang dan konstruksi tendanya cukup tinggi sehingga merupakan sasaran empuk bagi angin. Total yang mundur untuk ngecamp di puncak ada sepuluh orang, sementara sisanya, tetap akan ngecamp di puncak dan merayakan tahun baru disana.

Rute pendakian selepas Pos 3 benar-benar menguras tenaga karena selain curam dengan kemiringan kadang mendekati delapan puluh derajat, juga licin dan berbentuk parit-parit yang terbentuk karena aliran air hujan, jadi bisa dibayangkan jika hujan pasti jalur ini akan menganak sungai dan akan susah sekali untuk di tempuh. Kabut kembali menutupi sosok Sindoro, kami bergerak perlahan menuju puncak, jalurnya makin terjal dan penuh dengan batu-batu licin. “Naiknya enak, turunnya… gawat nih bang..” komentar Rona saat kami melewati satu tanjakan yang cukup terjal. Saya dan rona serta Dwi ada di urutan tengah, sementara di depan ada Ella, Irvan, Dipa dan Dian, dan saya yakin saat ini pasti mereka sudah berada dikawasan puncak sekarang. Mendekati daerah Pos 4 kami bertemu dengan rombongan Ephot dan Anno, mereka bilang puncak berkabut dan badai, setelah ngobrol sebentar lalu mereka turun dan kami bertiga melanjutkan pendakian. “gue nunggu Ayip dulu, elo duluan deh” kata Dwi sembari duduk istirahat, saya melihat kebelakang Ayib memang tidak begitu jauh, jadi kemudian saya dan Rona terus melangkah, “kita harus nguber yang didepan takutnya mereka ngga tau tempat mendirikan tenda” kata saya ke Rona dan dia mengangguk setuju.

Memasuki kawasan puncak badai kecang sekali dan kabut membatasi pemandangan, tapi samar-samar terlihat Dipa dan Dian tengah berusaha mendirikan tenda dan tidak jauh dibawahnya ada Ella dan Irvan melakukan hal yang sama, “Ooiiii, jangan disini disebelah sana ada dataran yang bagus spotnya, kalau elo diriin disini yang lain ngga bakal bisa dan anginnya juga keceng banget..!!” teriak saya sembari berusaha mengalahkan gemuruh suara badai. Benar-benar “the perfect storm” gumam saya dalam hati. Waktu ke merbabu kemaren juga badai tapi badai di Sindoro ini lebih kencang. Setelah membantu ella dan Irfan, kami menuju lokasi camp yang saya temukan disisi sebelah kiri dari puncak. Badai ini pasti akan menyulitkan kami mendirikan tenda, “biar mudah kita dirikan tenda satu-satu dengan jalan keroyokan, jadi tenda akan lebih mudah didirikan, dan jangan lupa pasang tenda dengan benar, patoknya pasang semua termasuk tali-tali guys lines nya”, ujar saya sedikit memberi komando biar teman-teman cepat bergerak. Dan satu persatu tendapun berdiri, “yang kenceng…!!!! Jangan kendor, bikin ngacenggg…!!” teriak saya agar teman-teman memasang tenda dengan benar dan tidak kendor, memasang tenda kendor ditengah badai akan berpotensi tenda tersebut akan robek oleh badai. Produsen tenda membuat tali-tali pengaman dan pasak-pasak pengaman adalah agar tenda bisa berdiri tegak meski badai menerjang. Kegiatan di alam bebas memang cocok sekali membangun semangat team work dan ini terlihat sekali sewaktu kami mendirikan tenda di tengah badai waktu itu, kelihatan sekali siapa yang punya jiwa pemimpin, siapa yang cepat tanggap dan bisa bekerja sama serta akan kelihatan juga siapa yang rada lemot dan daya inisiatif nya lambat seperti kura-kura. Saat mendirikan tenda milik Dwi, ada sedikit keganjilan, benar saja rupanya frame tenda ini terlalu pendek dan tenda ini berdiri sangat tidak sempurna sekali, saya ngga yakin ini tenda bisa bertahan dalam badai yang seperti ini. Ayip yang bawa tenda ini saat saya konfirmasi mengenai pasak dan tali-tali tenda tampak kebingungan, “wah ngga tau nih gue hanya bawa doang..”. apa boleh buat tenda tersebut jadi seperti penyanyi dangdut bergoyang-goyang ditiup angin.

“Dwi…Dwi… oiiiiiiii “ teriak saya melawan suara badai, saya kembali kejalur trek untuk menyusul Dwi yang belum sampai, menurut Ayip Dwi ngga begitu jauh dia tinggalkan tadi, terdengar teriakan sahutan, dan saya bergegas turun sekitar jarak 100 meter saya bertemu Dwi, kemudian dia saya antar hingga ke lokasi ngecamp, badai masih kencang. Saya ajak Kris untuk menemani saya menyusul Arif dan Bayu yang juga belum sampai. Namun di daerah puncak saya bertemu Bayu, “Arif mana Bay?” Tanya saya, “masih dibawa bang,” jawabnya “jauh ngga?” lanjut saya lagi.. “ngga terlalu jauh deh..” jawab dia. “Ok elo ambil terus jalan kekiri dan ntar belok kiri turun ya lokasi camp kita ada di situ, gue berdua mau nyusul Arif dulu.” Jelas saya pada Bayu sembari turun ke jalur setapak bersama Kris untuk menyusul Arif. Kami bertemu Arif juga tidak jauh dari puncak. “sini gue bawain ransel elo” tawar Kris pada Arif, “boleh, thanks ya” Arif menyerahkan ranselnya pada Kris dan bersama kami kembali ke lokasi nenda dan bersama-sama mendirikan tenda Arif.

Selepas mendirikan tenda Arif, hujan gerimis turun, meskipun gerimis kecil tapi karena disertai badai membuat bunyi gerimis tersebut terdengar santer menghempas tenda. Semua sudah di tenda masing-masing, entah apa yang dikerjakan mereka, saya sendiri sudah masuk ke sleeping bag, Rona sedari tadi dah sibuk masak Indomie, “bang aku tadi sempat terkena Hypo ringan, jari tanganku beku semua” kata Rona, “elo kan punya sarung tangan kok ngga dipakai?” tanya saya. Dia Cuma tersenyum sembari mengaduk-aduk mie. Badai kencang masih bertiup suara kepakan tenda Dwi keras sekali terdengar layaknya kibaran bendera, sesekali saya mengintip keluar dari tenda memperhatikan semua tenda, Tenda linchfield nya Nhanha kokoh berdiri, tampak tenda Coleman Arif juga cukup kuat karena diberi pemberat batu pada ujungnya. Sementara tiga tenda lainnya memang dirancang buat badai jadi saya tidak begitu menaruh perhatian. Semakin malam badai terus menghajar tenda-tenda kami. “Arif …. Gue pindah ketenda elo ya…!!” suara teriakan dari tenda sebelah dan ternyata suara Ayip, “Okeeeeeehhhhh” terdengar suara Arif berteriak menjawabnya, “wah bang itu suara Ayip tuh, wah pasti next mba Dwi yang teriak nih..hehehehe” kata Rona sembari nyengir…. Saya hanya senyum dan memang saya sudah perkirakan, karena melihat kondisi tenda Dwi yang sama sekali tidak cocok dalam situasi badai kecang seperti ini. Dan benar saja tak lama kemudian.., “Hendriiiiii, gue pindah ketenda elo…..” teriakan Dwi dan dia dah nongol di pintu vestibule tenda. “ayo masuk Dwi…., sorry masih berantakan” sambut saya. “Gila badainya tenda gue sampai banjir…” keluh Dwi. Badai malam ini memang benar-benar “The Perfect Storm”. Diluar terdengar suara pendaki lain yang baru sampai dan sibuk mendirikan tendanya, sebelumnya ada juga beberapa pendaki lain yang mendirikan tenda persis di belakang tenda saya. “Dimasakin Indomie mau mba?” tanya Rona sama Dwi, “boleh deh” jawab Dwi. Badai terus membuat tenda bergetar, untunglah konstruksi tenda yang memang dirancang untuk pendakian gunung ini bisa tetap membuatnya tegap berdiri.

“Oiii.. tenda Mba Dwi udah kolaps…!!!” teriak sebuah suara dari luar, dan benar saja saat saya mengintip dari pintu tenda terlihat tendanya Dwi sudah rata dengan tanah. “benar-benar the perfect storm” saya kembali bergumam, “Dwi gimana barang-barang elo tuh?” tanya saya ke Dwi, “ngga apa-apa tadi sebelum ke sini sempat gue beresin, paling sisa masakan gue tadi didalam” sahut Dwi. “aduhhh masih hujan ya… pengen kecing nih” keluh Rona yang sedari tadi nahan buang air kecil karena ogah keluar. Tidak berapa lama kemudian Dwi yang selesai makan Indomie, mendadak keluar tenda, rupanya dia juga sudah tidak tahan untuk tidak buang air kecil, dan ternyata hanya hujan gerimis kecil, karena badai yang kencang membuatnya suara seperti hujan lebat saat menerpa tenda. “Oiii ini misting siapa nehhhh…!!!, ketiup-tiup angin..!!” teriak Dwi dari luar, wah gila juga anginnya sampe sanggup menerbangkan panci misting kosong yang ada diluar, begitu tahu hujan tidak begitu lebat akhirnya saya juga jadi kepingin keluar, Rona mengikuti karena juga dari tadi sudah blinsatan untuk buang air kecil. Dari cahaya headlamp saya hanya terlihat putih saja angin kencang sekali, saya memeriksa tenda Dwi, ternyata ada beberapa framenya yang patah. Hanya patok-patok tendanya saja yang membuat tenda ini tetap pada posisinya dan tidak diterbangkan angin. Sekembalinya ke tenda bergelung masuk sleeping bag terasa sangat nyaman sekali. Jarum jam masih menunjukan jam 11 malam. “wah ngga jadi nih pesta kembang apinya hehehehehe..” gumam saya, sementara Dwi dan Rona hanya nyengir.

Tepat jam 00.00 WIB saya meniup peluit badai kepunyaan Dwi…. Sembari membuka sedikit pintu tenda “oooiiiiii selamat tahun baru….!!!!”” Saya berteriak dari dalam tenda dan disahuti oleh Dipa, Kris, dan Arif. Tidak ketinggalan pendaki lainnya yang ada disana juga membalas ucapan tersebut, Dipa membuka pintu tendanya di ikuti oleh Kris. “Kris, Nhanha mana? Dah tidur ya?” tanya saya, “udah bang tewas dia..hehehehehe” jawab Kris. Jadilah perayaan tahun baru itu kami rayakan di dalam suasana The Perfect Storm Sindoro, dan dengan memainkan cahaya headlamp yang membentuk seperti spotlight didalam kabut. Tiba-tiba Dipa nongol di pintu tenda nawarin pudding, “bang nih mau ngga? Puding tahun baru” tawarnya kami menerimanya, “kita juga bikin sih, tau tuh si Rona sukses apa ngga pudding bikinan dia” sahut saya sambil menelan pudding pemberian Dipa. Malam semakin larut sekarang sudah tahun 2008 perlahan dalam hati saya mengucapkan doa agar kehidupan di tahun ini lebih baik di tahun sebelumnya, dan perlahan melelapkan diri, Dwi dan Rona sudah diam dari tadi mungkin sudah berlayar jauh dalam mimpi mereka masing-masing.

Pagi hari, ini adalah hari pertama di tahun 2008, semua teman-teman tengah sibuk berfoto ria, karena pagi ini langit cerah, kabut perlahan tapi pasti menyibak dan pemandangan Sumbing serta nun di belakangnya Merbabu dan Merapi terlihat dibalik samar kabut dan awan, terobosan sinar matahari seperti membentuk lobang diatara ketiga gunung tersebut, pemandangan yang memukau, angin masih berasa cukup kencang. “Gue mau ambil air bang jalannya lewat mana?” tanya Kris, “naik sana terus elo ke arah puncak kemaren dan kemudian turun dari sana” jawab saya, kemudian Kris bertiga dengan Irvan dan Arif pamit untuk mengambil air di kawah. Saya, Rona dan Dwi bersiap untuk memasak sarapan, “Pada masak nasi aja dan kalo ada lauk masak juga ntar kita makan bareng, gue juga mau masak nih..” saya ngasih info sama Nhanha, Dipa dan yang lainnya. Pagi ini cuaca lumayan cerah tapi masih ada sedikit gerimis kabut, awan masih banyak mengantung di beberapa bagian langit, pertanda cerah pagi ini tidak akan lama. Sekitar jam 9 pagi makanan sudah jadi dan buru-buru makan karena takut cuaca akan segera berubah hujan kembali, packing harus sudah kelar disaat cuaca cerah begini.

Pada pendaki lain sudah banyak yang meninggalkan areal ini, kamipun mulai packing sementara sosok Sumbing jelas sekali terlihat, matahari menampakan sinarnya, tapi kadang kembali tertutup kabut dan kadang terbuka kembali. Sekitar jam sepuluh pagi kami sudah siap untuk turun kembali menuju Kledung, setelah sesi bikin foto keluarga di kawasan puncak, satu persatu kembali langkah kami menapaki jalur setapak turun, kabut kembali menutupi wilayah puncak Sindoro. Kledung kami raih disaat matahari sudah condong, sekitar jam 3 sore baru semuanya sampai di basecamp. Saya, dengan arif dan Rona berinisiatif duluan ke Wonosobo untuk membeli ticket bus, nanti nya teman-teman lainya menyusul karena masih ada yang sibuk mandi dan sebagainya, namun rupakanya keberuntungan tidak berpihak pada kami, saat sampai di terminal Wonosobo, Bus AC sudah berangkat bus ekonomi sepuluh menit lagi jalan, “gue baru nyampe Kertek nih” sahut Kris diseberang telpon saat saya menanyakan posisi teman-teman sekarang. Wah dah nga mungkin, akhirnya saat mereka semua dah ngumpul di Wonosobo kami putuskan untuk mencarter angkot hingga ke Purwokerto karena menurut info dari petugas Bus di Wonosobo, di Purwokerto banyak bus hingga jam 12 malam.

Perjuangan mendapatkan trnasportasi untuk pulang di purwokerto juga sangat alot, semua bus penuh, kereta penuh, dari ekxekutif hingga ekonomi… satu kata “PENUH” kami lemes semua ditambah lagi biang kerok supir taksi gelap di stasiun sempat membuat argo emosi saya melonjak tinggi. Akhirnya berkat Irfan yang gigih menanyakan kemungkinan kami untuk dapat tiket kereta berbuah hasil, walaupun harus dapat karcis bediri di kereta bisnis, kami terpaksa ambil, kereta yang super penuh itu akhirnya membawa kami kembali ke Jakarta, saya, Ella, Irvan, Nhanha, Rona, Kris, Arif dan Bayu, bersama kami naik kereta tersebut sedangkan Dian dan Dipa di Wonosobo mereka langsung ke Bandung. Dwi dan Ayip masih jalan ke Dieng. Berdelapan kamu akhinya memasuki Jakarta pada jam 4 pagi dan ternyata Jakarta banjir…..

Bersalaman kami berpisah di stasiun Jatinegara, kembali ke kehidupan normal masing-masing, terima kasih teman bersama kalian menempuh badai Sindoro dan begadang di kereta penuh sesak, sungguh suatu pengalaman yang membuat saya semakin tahu keterbatasan diri ini. “ayo pak jalan..” pinta saya pada supir taksi sembari menyebutkan alamat home sweet home……

Minggu, 06 Januari 2008

Dibalik Kabut Merbabu


“Eh… gimana sih, padahal kita dah booking villa lho” ujar Mba Lia Mustafa owner dan Moderator milis highcamp Jogjakarta saat menyambut saya, Ori dan Heru di rumahnya. “mana yang lainnya?” lanjutnya lagi. “Iya mba maaf, soalnya badai yang cukup kencang membuat kita ngga berani membawa teman-teman cewek untuk membawa gebolan ransel melewati kawasan puncak, jadi batal turun ke Selo.” Jawab saya sembari menyalami Mba Lia saat dia muncul bergabung dengan Mas Mustafa suaminya yang sedari tadi menemani kami ngobrol. “Mba Rachmi langsung ketemu saudaranya, Titi juga ketemu saudaranya, sedangkan Suwasti ngikut Titi.” Uraiku panjang lebar menjawab pertanyaan Mba Lia mengenai anggota tim Merbabu lainnya yang ngga kelihatan olehnya. Dan selanjutnya bisa ditebak obrolan melepas kerinduan dengan kakak yang satu ini pecahlah sudah, dan sangat menyenangkan.

Empat hari sebelumnya, di Lebak Bulus, Saya tengah celingak-celinguk mencari keberadaan Ori dan Suwasti yang sudah dulu sampai di terminal ini, kami memang hari ini akan berangkat mendaki gunung Merbabu di Jawa Tengah. Dari Jakarta kami berjumlah lima orang, dua orang lainnya yaitu Heru dan Titi ungu yang saya yakin sekarang juga sudah meluncur menuju terminal bus Lebak Bulus. Dua anggota tim lainnya yaitu Mba Rachmi dan Bowo akan bergabung dengan kami di desa Wekas, tempat dimana kami akan memulai pendakian. “Ori dimana posisi elo tepatnya?” akhirnya saya menelpon Ori karena belum juga menemukan mereka berdua, “di rumah makan padang bang, didepan bus yang mau ke Garut” jawab Ori diseberang telpon. Akhirnya tak beberapa lama kemudian kami sudah berkumpul semua, dan bukan itu saja kami juga sempat betemu dengan teman-teman dari milis #Pendaki yaitu Nanda cs yang akan berangkat ke Gunung Slamet.

Alunan “Aku Mau” nya Once mengalun dari Ipod kesayangan saat bus mulai melaju menembus gerimis meninggalkan Jakarta. Titi dan Suwasti duduk paling depan dibelakangnya Ori dan Heru, sedangkan saya kebagian duduk sendiri, tapi tidak sendiri juga disebelah saya duduk gadis manis yang kemudian saya ketahui namanya Ratna yang baru lulus SMA dan mau berlibur ke tempat neneknya. Aku mau-nya Once terus mengalir dan perlahan saya pun jatuh tertidur. Bus malam Kramat jati terus melunjur menuju Jawa tengah, berhenti sekali untuk makan malam dan melaju lagi.

“+=*&^%$#..??” si kenek bus bicara sama Ori dengan bahasa Jawa, saat itu bus sudah mendekati kota Magelang tepatnya di kota Bawen, rupanya kami akan diturunkan di Bawen sini karena dengan alasan mobil yang kami tumpangin ini tidak menuju Magelang. “tuiiiingggggg” seperti biasa saya langsung ngomel, mereka menyalahkan kita ngga baca dulu busnya sebelum naik. Padahal sebelumnya di Lebak Bulus yang menyuruh kita naik bus ini adalah petugas mereka. Sedikit argument dan ribut akhirnya kita ngalah dan turun di Bawen, si kenek itu memberikan uang operan pada calo untuk mecarikan kami mobil ke magelang, dalam hati saya berjanji untuk tidak naik Kramat Jati lagi, jarum jam masih menunjukan jam empat pagi, udara cukup dingin dan basah karena habis hujan. Dengan kondisi begini, akhirnya kita memutuskan untuk carter angkot hingga ke Magelang dari sana kami langsung carter kendaraan menuju desa Wekas.

“Ayo turun dulu, ngga kuat nih mobilnya” ajak Ori saat Mobil Zebra Espass yang kami tumpangi tidak mampu melewati tanjakan terjal menuju Desa Wekas, hari masih pagi sekitar jam enam, masih basah dan cukup dingin. Mau tidak mau akhirnya kami turun, dan sang Zebra mengambil ancang-ancang dan lanjut meraung-raung mesinnya melewati tanjakan tersebut. Memang kondisi jalan cukup terjal dan jalannya berlapis batu-batu licin. Desa Wekas ini berada di ketinggian 1722m dari permukaan laut, dari belakang rumah kuncen gunung ini yaitu pak Sutyoso kita bisa memandang lepas kearah gunung Sumbing dan Sindoro yang gagah berdiri. Kami disambut oleh Bowo saat sampai di rumah pak Yoso, saya langsung masuk dan betemu pak Yoso juga Mba Rachmi dengan pasukannya, rupanya pada pendakian pertamanya mba Rachmi diantar oleh temannya Romna yang kemudian akrap saya panggil Romla, kemudian mba…????..aduh namanya lupa, disamping itu juga ada anaknya mba Racmi serta anak temannya itu. Mereka akan mengantarkan mba Rachmi hingga minimal sampai pos 1.

Untuk mendaki Merbabu umumnya ada tiga jalur umum yang selalu dipakai yaitu jalur Cuntel dan Tekelan dari sisi Utara serta jalur Selo dari sisi Selatan. Ada satu lagi jalur dari sisi Barat yaitu dari Wekas, jalur ini karena merupakan rute langsung (direct route) lebih pendek dan memang lebih menanjak namun waktu tempuhnya lebih cepat ketimbang dari sisi Selatan dan Utara. Ditambah lagi faktor air yang cukup tersedia di Pos II jalur ini, belum lagi view yang sangat menawan dari Pos II dan ada sebuah air terjun yang berada dibawah lembahnya. Inilah yang membuat saya mengusulkan pada teman-teman untuk memilih jalur Wekas sebagai akses menuju puncak Merbabu. Pada jalur wekas ini hanya terdapat dua pos istirahat yaitu pos satu dan pos dua.

Hanya sebentar kami di basecamp nya pak Sutiyoso ini, masih pagi dan kamipun langsung memulai pendakian setelah berdoa bersama dan meneriakan yel..yel.. “Baaweenn.!!” Yah.. akhirnya kata bawen menjadi yel-yel kami, dan Herupun menjadikannya sebagai kalimat ledekan saat bercanda dengan Suwasti. “elo sih karena Bawen dan banyak makan Bakwen kita jadi turun di Bawen…hahahahahahahaha” demikian joke yang diucapkan Heru. Sebelum kami akhirnya berangkat memulai pendakian ke Merbabu.

aku mau mendampingi dirimu
aku mau cintai kekuranganmu
selalu bersedia bahagiakanmu
apapun terjadi
Ku janjikan aku ada

Kau boleh jauhi diriku
namun ku percaya
kau akan mencintaiku
dan tak akan pernah melepasku

Alunan Aku Mau – nya Once mengalir dari speaker kecil yang tergantung di ransel saya, entah kenapa lagu tersebut menempati urutan teratas di tangga lagu kegemaran saya saat ini, dan menemani langkah kami menapaki jalan setapak rute pendakian Wekas. Jalan setapaknya yang awalnya berupa susunan batako yang di semen sekarang sudah berganti dengan jalan tanah yang cukup licin namun jelas terlihat, sementara rombongan pengantar Mba Rachmi tampak bersemangat sekali menapakinya, cuaca mendung dan sesekali kabut turun. Selepas pos 1 rombongan pengantar mba Rachmi kembali turun, dan kami terus bergerak menuju Pos 2. keadaan rute pendakiannya cukup menanjak karena ini jalur direct jadi tidak heran tanjakan curam cukup banyak ditemui.

“wow indah sekali” saya berdecak kagum saat memasuki pos dua, dari pos dua ini jejeran punggungan dan puncak-puncak jelas terlihat. “Ori mirip dengan view di basecamp pegunungan alpen di Jepang, bedanya disana puncak-puncak dan pungungan itu berwarna putih tapi kalo disini hijau” ujar saya pada Ori yang juga tengah enjoy dengan view di pos II ini. Sesekali kabut turun menutupi jajaran puncak-puncak tadi tapi kemudian kembali tersingkap, indah sekali. Nun dibawah lembah sana terlihat air terjun yang cukup besar sehingga bunyi pecahan airnya terdengar hingga ke tempat kami berdiri.

Selesai makan siang, tidak bisa berlama-lama disini karena mendung sudah semakin tebal, dan benar saja saat baru melangkah meninggalkan Pos II hujan turun dan semakin deras, kami terus melangkah kabut juga membuat jarak pandang semakin pendek, jalan setapakpun berubah menjadi aliran air seperti sungai kecil. Kami terus melangkah untunglah kami sudah siap sedia dengan kondisi “wet weather” begini.

Mendekati daerah puncak Antene, hujan berhenti dan perlahan kabut menyibak, jalur Wekas ini akhirnya bertaut dengan jalur dari Kopeng (cuntel dan Tekelan) dan menyatu hingga kepuncak. Sempat bertemu beberapa pendaki lainnya dan saling bertegur sapa. Seperti rencana akhirnya kami mendirikan tenda di sebuah pelataran yang di kenal dengan sebutan Hellypad. Sebuah dataran yang cukup menampung 4 tenda dan beranda diantara dua puncak kecil. Hellypad ini bagus sekali untuk lokasi tenda, karena pemandangan dari sini sangat indah dan juga jika turun kebawah kearah kawah kita bisa menemukan sumber air. Sekitar jam lima sore tiga tenda kami sudah berdiri hanya dua tenda yang kami pakai satunya kami gunakan untuk gudang logistik dan barang-barang, kabut tebal kembali menutupi lokasi camp kami dan membuat jarak pandang terbatas. Detingan panci trangia dan suara canda tawa kami mengisi kawasan hellypad ini. Kami memang cukup kelaparan hidangan pembuka berupa minuman hangat menjadi pilihan sementara Ori, Heru dan Bowo turun ke arah kawah untuk mengambil persediaan air.

Selesai magrib makan malam kami sudah siap, ada sayur oseng buncis campur terong, tempura terong, Ikan asin, goreng daging kambing. Mhmmm lahap sekali kita makan bersama, sementara diluar tenda kabut masih menggatung menutupi jarak pandang kami. Tidak berapa lama kemudian kami akhirnya menyerah pada kantuk yang menyerang dan satu persatu akhirnya rebah terlelap didalam kehangatan sleeping bagnya masing-masing, diluar angin masih terdengar cukup kencang, alunan Nothing Gonna change my love for you – nya Peabo Bryson dari speaker Ipod yang tergantung di disisi tenda bagian dalam terus mengalun dan malampun jatuh semakin jatuh terlelap……

“oiiii bangun bagus nehhhhh…!!!” sayup-sayup suara teriakan seseorang membuat saya terbangun dari tidur, ahh tenyata cukup nyenyak tidur semalam rupanya karena tidak terasa hari sudah siang kembali. Perlahan saya muncul dari balik sleeping bag dan bagun pelan-pelan lalu membuka pintu tenda koneng yang telah melindungi dari dinginnya angin dan kabut gunung semalam. Begitu resleting pintu tenda dibuka serta merta udara dingin menyeruak masuk dan uhhh.. ternyata diluar masih memutih tertutup kabut tebal. Ori dan Bowo sudah sibuk diluar memasak air, perlahan dengan malas saya keluar tenda. Bbrrrrrr… dingin juga kayaknya segelas teh manis panas bisa menghangatkan badan nih, batin saya sembari mendekati Bowo dan Ori yang tengah asyik didepan kompor trangia. “ngopi bang..??” tawar Ori sambil menyeruput kopi hitam kentalnya, “gue teh aja deh, ada ngga?” sahut saya sembari ikut nongkrong didepannya, “ngga ada kayaknya nih, elo biasanya bawa teh kan bang?” lanjut Ori, “ada, bentar ya” saya beranjak ke tenda mengambil teh celup kesukaan. Memang saya tidak suka ngopi, tapi ngeteh, dan setelah menemukan yang saya cari sayapun memberikannya pada Ori. Dan tak lama kemudian segelas teh panas telah berada dalam genggaman tangan dan memberikan kehangatan saat menghirup pelan-pelan.

Jarum jam sudah menunjukan angka delapan tapi sepertinya kabut masih terus menyelimuti kawasan Merbabu, tidak ada yang bisa dilihat kecuali putih. “Bang gimana menurut elo?” Tanya Ori, “ kita tunggu aja dulu sapa tau ntar kabut beranjak” sahut saya pada Ori. Tapi ternyata kabut merbabu semakin tebal dan malah sekarang angin mulai bertiup semakin lama semakin kencang. “bang kayaknya ngga mungkin nih kita bawa ransel ngelewati badai begini, gue cemas sama yang cewek-cewek, gimana menurut elo” Tanya ori setelah melihat kemungkinan tipis sekali cuaca berubah menjadi baik. Saya diam sejenak dan melihat sekeliling. “gimana bang, kalo kita naik tanpa ransel aja, barang tinggal disini?” lanjut Ori. “ya tapi ngga bisa kita semua yang naik, bisa-bisa hilang semua nih tenda berikut isinya” sahut saya. Akhirnya setelah cukup lama berdiskusi dan mempertimbangkan keadaan, kami sepakat untuk merubah skenario pendakian yang tadinya rencana akan naik ke puncak dan mendirikan camp II di kawasan puncak dan turun lewat Selo pada hari berikutnya dirubah menjadi tetap ngecamp di Hellypad ini dan turun kembali melewati Wekas. Apa boleh buat demi keamanan, akhirnya kami memutuskan demikian.

“Ok deh kita bagi dua regu aja buat ke puncak” kata Ori, “sapa yang regu pertama? Gue ngikut regu pertama deh, elo gimana Ri?” ujar saya sambil balik bertanya sama Ori, “gue juga ikut yang pertama aja bang.” “Aku juga ikut yang pertama” terdengar suara Titi Ungu juga angkat bicara, dan akhirnya total tim yang pertama menuju puncak dengan ikutnya juga mba Rachmi adalah empat orang.

Menit-menit berikutnya kami berempat sudah berjalan menembus tebalnya kabut dan badai merbabu yang cukup kencang, perlahan dan dengan sangat hati-hati kami melewati “jembatan setan” sebuah jalur yang dikiri kanannya terdapat jurang, kami terus mendaki sesekali saya mengabadikannya. Sementara badai semakin kencang, saat melewati pertigaan puncak Syarif dan puncak Kenteng Songo tiupan angin semakin terasa, kami juga bertemu dengan sekelompok pendaki yang mundur karena tidak tahan angin, saya pikir lebih baik begitu karena dilihat dari pakaian yang mereka kenakan tanpa wind breaker sangat tidak aman sekali jika mereka nekat menembus badai ini. Setelah melewati tanjakan akhir, puncak Kenteng Songo kami raih, kabut pekat dan angin cukup kencang disana, tidak ada pemandangan yang bisa dilihat, setelah istirahat makan snack dan mengambil beberapa foto didekat batu-batu berceruk mirip lesung yang merupakan ciri khas puncak Kenteng Songo ini, kami bergerak turun kembali, tidak langsung turun tapi kami akan mengunjungi puncak ke dua yaitu Puncak Syarif.

Badai masih kencang dan saat sampai kembali di pertigaan puncak kami menemukan pendaki lain yang berlindung dibalik batu dengan cara tiduran dan berbungkus lembar plastik, ternyata mereka tengah menunggu temannya yang masih berada di puncak Syarif. Nasip kami sedikit baik saat berada di puncak Syarif, perlahan kabut tersibak dan badai berhenti namun terkadang tiupan angin masih terasa cukup kencang. Titi dan mba Rachmi berteriak-teriak senang minta di foto saat kabut perlahan tersibak dan terlihatlah sosok puncak gunung Sumbing dan Sindoro yang seakan mengapung diatas awan. Tapi saya sepertinya berpacu dengan kabut, begitu tersibak kembali dia menutup dan terus begitu beberapa kali.

Sosok Merapi terlihat tiba-tiba saat kabut beranjak di arah selatan, awan terlihat menutupi satu sisi bagian timurnya saja, sepertinya dipuncak Merapi juga tengah terjadi badai. Dalam perjalanan turun menuju camp perlahan kabut menghilang dan badaipun berhenti, camp kami di hellypad jelas terlihat dan dengan hilangnya kabut puncak-puncak lainnya juga semakin terlihat. Merbabu mempunyai ciri khas pemandangan yang lain daripada gunung lainnya, karena sembilan puluh persen dari gunung ini hanya di tumbuhi oleh rumput ilalang membuat jarak pandang tidak terhalang dan punggungan serta puncak-puncaknya jelas terlihat berwarna hijau kekuning-kuningan.

“Suwasti jadi kepuncak ngga cepat buruan mumpung cuaca bagus tuh” kata saya saat sampai kembali di Hellypad lokasi camp kami. “ngga ah males” jawab dia. “iya malas ah, gue juga dah beberapa kali nyampe puncak bang” timpal Bowo juga dan Heru sepertinya sependapat. “makan bang tadi kita dah masak tuh” lanjut Bowo, tanpa komando lagi kami yang memang kelaparan dari puncak segera menyantap makanan yang telah disediakan oleh sahabat-sahabat yang baik hati ini. “uuu.. tau ngga pada kepuncak mending kita main-main dulu tadi dipuncak” gumam Titi begitu mengetahui Heru, Suwasti dan Bowo tidak jadi kepuncak.

Hari masih sore, saya mengisinya dengan motret sana sini, ngga puas-puasnya mengarahkan camera mengabadikan pemandangan indah dari gunung Merbabu ini. Selanjutnya kami mengisi waktu dengan main kartu remi, dan sebagaimana halnya kabut Merbabu yang sudah tersibak ternyata ada juga kisah dua anak manusia yang tersibak dalam perjalanan ini dan tak pelak lagi keduanya menjadi sasaran canda hingga tak berkutik menerima ledekan dari kami berlima, terlebih yang cowok mukanya sesekali bersemu merah, entah apa yang ada dihatinya saat menerima ledekan kami. Mudah-mudahan saja mereka juga saling suka. Sayang sekali battery Ipod saya sudah habis, kalau tidak saya akan putarkan lagu “Sempurna” nya Andra and the backbone untuk mereka berdua. Kami main kartu hingga hari menjadi gelap. Malam ini cerah sekali dibawah sana kerlap-kerlip lampu kota jelas terlihat dan perlahan tapi pasti purnama pun muncul dengan sosok yang utuh. “aduh sayang sekali kita ngga jadi ngecamp di puncak, coba ngga badai ya dan kita bisa ngecamp dipuncak pasti pemandangan malam purnama dengan sosok Merapi sebagai back ground akan sangat bagus sekali” gumam saya sembari terus mengabadikan malam yang hening ini.

“Mas-mas tolong teman saya pinsan” ujar seseorang mendatangi tenda kami, rupanya mereka tiga orang pendaki lain yang mendirikan tenda tidak jauh dari tempat kami nenda. Bergegas kami menuju kesana, rupanya yang pinsan itu adalah teman perempuan mereka, saya meraba nadinya dan masih berdenyut normal, “kenapa dia” Tanya Bowo, “tau mas tadi ngga apa-apa malah habis ngerokin dia” sahut cowok yang memanggil kami tadi sambil menunjuk teman cowoknya, “terus tadi tidur tiba-tiba pinsan” lanjut dia lagi. “tadi kehujanan ya? Sudah makan belum dia” Tanya saya. “dia ngga mau makan mas, ngga napsu katanya” sahut temannya. Ya ini sering terjadi pada pendaki pemula, mereka sering kehilangan napsu makan saat mendaki, kehilangan napsu makan dan merasa mual saat mendaki adalah gejala awal dari mountain sickness.

Setelah siuman Titi dan Suwasti merawatnya dengan memberikan minuman dan makanan hangat. Kami kembali ke tenda setelah keadannya kembali normal, hanya Titi dan Suwasti masih disana, namun tidak lama mereka bedua sudah kembali, malam semakin larut angin sepoi-sepoi berhembus, purnama bulat penuh. Lega rasanya pendaki cewek itu bisa diselamatkan.

“Bang bagun bang… bagus nih….!!!” Terdengar teriakan Ori dari luar tenda, saya tersentak bangun. Pulas sekali tidur, masih sekitar jam 5 pagi saya ragu untuk keluar takut dikerjain lagi seperti kemaren, namun rupanya benar sat keluar tenda saya lihat purnama sudah condong, sementara di ufuk timur bias sang fajar perlahan muncul menggantikan sinar purnama. Namun sayang awan cukup tebal di ufuk timur sehingga bias yang muncul tidak begitu jelas. Saat matahari semakin naik, kami yang cowok-cowok turun ke arah mata air didekat kawah untuk mengambil air, mata air ini mengalir keluar dari sebuah lubang dan dialirkan pada pipa-pipa turun ke perkampungan, pipa-pipa ini bisa ditemukan disepanjang rute pendakian jalur Wekas, bahkan sumber air di pos 3 berasal dari pipa yang dibolongi. Memang rasa airnya sedikit asam, tapi lebih baik dari pada kehausan.

Selesai sarapan dan packing-packing kami sempatkan untuk foto bersama dan setelah itu kembali kaki-kaki kami menapaki jalur setapak turun kembali ke Wekas, tidak terlalu lama waktu yang kami perlukan untuk mencapai Wekas hanya kurang lebih 5 jam kemudian kami sudah berada kembali di rumah pak Sutyoso sang kuncen jalur Wekas. Kami bermalam disini dan baru turun ke Jogja keesokan harinya untuk bertemu Mba Lia moderator HC Jogjakarta.

Sewaktu mobil pickup yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Wekas tampak sosok Merbabu yang kembali ditutupi kabut, namun dibalik kabut itu tersimpan pemadangan yang indah, cerita yang indah yang mudah-mudahan terus berlanjut menjadi alur yang indah dan bukan hanya sebagai kenangan indah “Dibalik kabut Merbabu”.

November Rain di Gn. Gede


Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujimu
Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Alunan “Sempurna” nya Andra and the backbone mengalir dari HP nokianya Ori, ya kau memang begitu sempurna, kau memang begitu menarik dan penuh pengertian - aku membatin sendiri mengenang seseorang sambil tenggelam sibuk memasak buat tiga orang teman-teman pendaki ku yang tengah kelaparan ini. Sementara diluar sana angin lembah Surya Kencana bergemuruh menghantam lembar flysheet tambahan yang dipasangkan pada tenda Eureka milik Ori ini, mengeluarkan bunyi kepakan-kepakan bagaikan sayap-sayap elang. Masih sekitar jam tujuh malam, udara cukup dingin, kabut tebal dan berangin kencang menyelimuti lembah Surya kencana Gunung Gede. Didalam tenda kami saat ini ada Ori yang santai menikmati sigaretto nya dan Titi ungu yang sibuk membantu mengiris sayur buncis serta ada mas Ei yang ikut ambil bagian memotong dendeng kering menjadi potongan-potongan kecil agar mudah menggorengnya. Ditenda sebelah ada Tanti, Neni dan Asep. Di tenda depan Ada Budi Hijau, Hanung, Danis, dan Gery sedangkan disebelahnya lagi ada tendanya Cepot dan Elly.

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

Sempurna – nya Andra and the backbone masih mengalir. Ya saya dan teman-teman tengah berada di gunung Gede malam ini. Pendakian yang di prakasai oleh Tanti dari #pendaki ini diikuti oleh 13 orang termasuk saya. Sabtu pagi kami memulai pendakian, tidak terburu-buru, langkah kami mengalir seiring dengan hebusan sejuknya angin gunung dan cuaca sepanjang pendakian juga cukup bersahabat meskipun beberapa kali kabut tebal sempat turun namun kami masih diberikan keberuntungan tidak dibasahi oleh hujan. Dan saat kami mencapai wilayah alun-alun timur Surya kencana sekitar jam empat sore, kabut cukup tebal menggantung di hamparan padang Surya Kencana, gunung Gemuruh disebelah kiri tertutup kabut. Namun langkah dan tawa canda gerombolan kami memecahkan kesunyian padang ini. Bunga abadi Edelweiss tampak sudah mulai kering menguning kecoklatan, wanginya sudah tidak tercium, namun jika kita mengujungi lembah ini di bulan Juni semerbak edelweiss yang sedang mekar akan menyeruak memenuhi rongga hidung saat hembusan lembut angin gunung menghantarkannya keindra penciuman kita.

Lokasi kami mendirikan tenda saat ini tidak begitu jauh dari sumber air, berada diseberang sungai kecil tepatnya di kaki punggungan gunung Gemuruh. Pendaki lain tidak begitu banyak, namun lokasi nenda strategis sudah terisi mereka inilah yang membuat kami memilih tempat ini sebagai tempat bermalam dan beristirahat. “Bang dah kelar nih buncisnya” ujar Titi memecahkan keheningan saya. “Ok Ti, lanjut sama bawang merah dan putihnya, juga sekalian cabenya tolong di iris”. Jawab saya sambil terus menggoreng potongan-potongan dendeng. Ini adalah pendakian kedua saya sama teman-teman #Pendaki, sebelumnya saya sempat gabung mereka ke gunung Salak.

Udara makin dingin, tiupan angin masih kencang, tapi rasa dingin tersebut bisa terobati oleh kehangatan diberikan saat menghirup teh manis hangat. Tidak begitu banyak obrolan diantara kami, semua sibuk dengan keasyikannya, mas Ei tampak mulai memasangkan sarung tangan menutupi jemari tangannya. Tidak lama kemudian santap malam kami pun sudah siap, yaitu dendeng, sayur oseng buncis, dan ditambah tempe teri balado yang dibawa oleh Titi. Sederhana sekali tapi cukup membangkitkan selera saat menyantapnya. Usai ritual makan seperti biasa, keinginan untuk segera rebahan tidak bisa ditunda lagi terlebih dengan cuaca seperti sekarang, tidak yang bisa mencegah keinginan untuk segera masuk ke sleeping bag dan tidur dengan nyaman. Diluar kepakan-kepakan lembar flysheet tenda yang di hantam angin lembah ini terasa bagai musik alam yang menggatikan Andra and the backabone yang sudah dari tadi menghilang. Karena rasa kantuk dan lelah akhirnya kami semua tertidur lelap. Saya segera tertidur, melupakan kepenatan saat pendakian tadi melupakan sosok yang sore tadi sepintas terlihat mengawasi kami, juga sosok muka yang mengintip dari jendela tenda saat saya tengah memasak. Biarkan mereka mengenal kami dari jauh saja.

Aku terbangun karena mimpi yang ngga enak bener, yaitu mimpi ngerjain kerjaan di kantor padahal sudah jamnya untuk pulang, saya ngomel tapi sempat terdengar oleh Titi, dan antara setengah sadar dan enggak saya sempat denger titi bilang “Hei bang Hendri ngigo tuh..” saya pun perlahan bangun dan menjawabnya “ngga ti gue ngga ngigo gue mimpi” - wekkkkkk… sama aja ya hahahahahaha……

Perlahan tenda dibuka angin dingin menyeruak masuk, mhmm masih berkabut, sedianya recanan Tanty yang menjabat leader kami, tadi subuh harusnya kita mendaki kepuncak untuk ngejar sunrise, tapi rupanya cuaca tidak bersahabat sehingga membuat kami lebih memilih bergelung kembali dibalik kehangatan rangkulan sleeping bag masing-masing, dan baru mulai bangun saat matahari sudah mulai menyising. Kesibukan mulai terdengar detingan suara misting (peralatan masak) memecahkan keheningan lembah pagi itu. Angin sudah tidak bertiup lagi, namun terasa masih dingin. “ayo bang masak sarapan dong.” Rengek Titi, mungkin cacing di perutnya sudah mulai bergeliat minta jatah. Saya masih enggan keluar dari sleeping bag, Ori yang sudah berada diluar cepat tanggap menyiapkan kompor dan memasak air. Sementara Sempurna – nya Andra and backbone kembali terdengar dari HP Ori.

Saat matahari mulai perlahan naik, kesibukan mulai terlihat, dari tadi malam bibir ini saya tahan untuk tidak meledek dua mahluk yang satu tenda dengan saya, akhirnya mulailah ritual tersebut entah siapa yang memulai ledekan-ledekan mulai meluncur dan ternyata Ori pun merasakan hal yang sama, “Bang sebenernya gue mulai dari semalam pengen ngecengin hehehehehehe”. Ujar ori sembari menyerigai khas nya dia. Dan pecahlah pagi itu dengan riuh redah candaan saya dan ori, sementara kedua sasaran jadi mati gaya.

Saat matahari mulai menyapa rerumputan Surya Kencana, sinar lembutnya menggoda saya untuk membuat sesi pemotretan ala model, dan jadilah Tanti, Titi, Gery dan Elly menjadi sasaran camera saya, Hanung juga ikut bergabung menjadi fotographer dadakan. Pose demi pose dan jepretan-demi jepretan, tak terasa waktu terus begulir hingga tibalah saatnya kami harus meninggalkan lembah ini turun menuju Cibodas, akan tetapi harus mendaki puncak terlebih dahulu dan baru turun kemudian.

Selesai packing, perlahan kami berajak meninggalkan lembah yang sudah sekian kalinya kami datangi, ya lembah ini tidak pernah bosan kami kunjungi pesona nya bagaikan keindahan seorang wanita yang begitu sempurna.

Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujimu
– Andra and the backbone.

Puncak kami raih setelah perjalanan pendakian menapaki jalur jalan setapak. Beberapa teman ternyata ada yang baru pertama kali mencapainya, namun sayang cuaca tidak bersahabat, Kabul tebal menyelimuti puncak menghalangi pemandangan kawah dan lembah surya kencana. Cukup lama kami istirahat menunggu kabut tersibak, namun rupanya peruntungan tidak memihak kepada kami, bukannya kabutnya yang tersibak malah hujan yang datang menemani kami. Cuaca seperti ini tidak baik berlama-lama di puncak, kami beranjak turun menuju Cibodas, hujan makin lama makin deras dan sampai disuatu tempat dimana pernah Sobat kental dari Ori, mengalami kecelakaan kami berdo’a sejenak untuk mengenangnya.

Saat turun hujan makin menjadi, hingga sampai di Pos Kandang Badak hujan semakin deras. Tapi kejutan yang menyenangkan ada disana, Buluk teman di milis #pendaki sudah menunggu dengan satu thermos kopi hangat dan nasi bungkus yang masih hangat, semuanya suka cita melihat teman yang satu ini. Saat masih di Kandang Badak saya juga bertemu Jenny Irma sahabat lama saya. Dia mendaki dengan tiga orang temannya.

Hujan semakin deras tidak ada tanda untuk berhenti, langkah dilanjutkan. Dari Ipod saya mengalun November rain – gun n roses, mengiringi langkah saya menembus lebatnya hujan. Pos demi pos dan shelter demi sheter dilewati, hujan terus menguyur hanya sejenak berhenti dan kemudian kembali deras mengguyur. “Benar-benar November rain.” Gumam saya sendiri. Pos TNGP Cibodas kami raih sekitar jam 4 sore, kemudian kami beristirahat di Pondok Relawan Montana, menunggu hujan reda.

Pendakian ini begitu berkesan bagi saya, banyak sahabat baru yang bertemu. Kehangatan sebuah persahabatan begitu terasa mengalahkan dinginnya hembusan angin gunung, pekatnya kabut lembah dan derasnya hujan di bulan November, ya sahabat sangat menyenangkan sekali bersama kalian bersama menikmati “November rain di Gunung Gede”.

'Seven sums' di Dempo


“Gue masih dijalan, ada kerusakan mesin nih. Mungkin dua jam lagi baru sampe..” ujar suara diseberang telpon. Dia adalah Halida, anak Palembang yang kerja di Pekan Baru. Sekitar jam sebelas siang saya dan teman-teman baru saja mendarat di Bandara Sultan mahmud Badaruddin II, Palembang. Ada enam orang dalam rombongan kali ini yaitu Bang Kamser, Yadoet, Ogen, Titi dan Rina. Sedianya ada Fedy yang bakal ikut tapi karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya digantikan oleh Ogen. Telpon dari Halida saya terima saat tengah menunggu bagasi di arrival hall. Halida juga akan ikut dalam rombongan kami, kali ini kami akan mengunjungi atap dari bumi Sriwijaya ini yaitu Gunung Dempo.

Apa boleh buat, kami menunggu Halida yang tengah berjuang untuk segera sampai di Palembang. Sedianya menurut rencana Halida sudah ada di bandara menjemput kami dan segera berangkat ke Pagar Alam yang merupakan entry point ke gunung Dempo. Hujan mengguyur bumi Sriwijaya, sementara kami menunggu Halida dan ternyata mobil travel yang kami pakaipun tidak bisa berangkat lebih cepat dari waktunya seperti rencana kami, entah salahnya di komunikasi atau mereka yang tidak tepat janji, yang pasti kami tidak bisa berangkat lebih cepat dari jadwal mereka walaupun kami mencarter satu mobil. Menurut informasi yang didapat baru ada satu perusahaan travel yang beroperasi untuk trayek Palembang dan Pagar alam ini. Jadi memang mau tidak mau akhirnya saya hanya bisa memendam rasa dongkol karena sudah akan terbayang waktu tunggu yang terbuang percuma. Hujan terus mengguyur dan setelah makan siang Halida pun nongol menjemput kami, tidak tanggung-tanggung kedua orang tuanya pun ikut menjemput, wah jadi tidak enak. Dan kami pun melaju memasuki kota Palembang dan langsung ke lokel travel, disana kami harus masih menunggu. Alasan mereka tidak bisa berangkat cepat adalah karena mobil tidak ada semua sedang dalam perjalanan dari Pagar Alam menuju Palembang. Kendaraan travel ini sehari hanya beroperasi dua kali untuk trayek Palembang – Pagar Alam yaitu pada pukul 08.00 pagi dan pukul 17.00 sore. Kembali kebosanan menunggu melanda kami..........

Akhirnya setelah penantian yang cukup membosankan itu, sekitar jam enam sore akhir kami semua bisa juga duduk didalam mobil L300 yang telah melaju membawa kami menuju Pagar Alam. Perjalanan yang akan kami tempuh kurang lebih tujuh jam, tidak ada yang istimewa selama perjalanan, kecuali canda tawa kembali terdengar setelah tadi selama menunggu semua terlihat bungkam karena bosan. Malam semakin larut mobil semakin melaju membelah gelap malam dan satu persatu dari kamipun tertidur .

Sekitar jam 12 malam lewat kami dibangunkan oleh supir mobil tepat berhenti dipinggir jalan dan saya ingat ini adalah Rumahnya Pak Anton, akan tetapi rupanya pak anton sudah tidak tinggal disana lagi. “Pak Anton tinggal dirumahnya sendiri sekarang diatas dekat kebun teh” kata orang yang menempati rumah lama pak Anton. Tidak susah menemukannya dan setelah bertemu pak Anton kami pun menginap di pondok pendaki dibelakang rumah pak Anton. Disana sudah ada dua orang anak Pecinta Alam Edelweiss dari Universitas Atmajaya Jakarta., tidak lama kemudian kami sudah terlelap kembali karena rasa kantuk yang tidak tertahan.

Cukup lelap tidur semalam dan saya baru terbangun jam setengah enam, sementara yang lain masih terlihat tidur nyenyak, mau tidak mau harus dibangunkan karena harus berangakt pagi. Akan tetapi hambatan baru kembali kami hadapi yaitu lewat informasi dari istri pak Anton kami baru tahu bahwa alat transportasi menuju Kampung Empat yang merupakan entry point pendakian sudah berangkat jam lima pagi lalu, dan mobil lain yang bisa dicarterpun tidak ada. Waktu semakin berjalan matahari semakin naik, akhirnya saya berhasil mendapatkan kendaran pickup untuk dicarter, sekitar jam sepuluh lewat akhirnya kami baru bergerak menuju Kampung Empat. Saya pernah mengunjungi gunung ini tapi itu semasa di SMA dulu kalau dihitung waktu sekitar 20 tahun yang lalu, banyak sekali perubahan yang terjadi di Pagar Alam ini, dan ini pun berdampak pada penentuan titik awal menuju pintu rimba, saya lupa!!!! Dan gawatnya juga Halida yang sudah tiga kali ke gunung ini juga lupa, wah gimana???? Teman-teman pada punya inisiatif menelpon teman-temannya yang pernah mendaki gunung ini. Namun petunjuk yang didapat tidak begitu jelas, akhirnya setelah celingukan di kebun teh, kami menemukan juga sebuah jalan setapak, jalan ini pada awalnya cukup jelas namun setelah lama berjalan jalannya tidak begitu jelas dan terkadang putus. Namun saya merasa sepertinya dulu waktu mendaki gunung ini melewati jalur yang ini. Jalurnya cukup bagus meskipun terkadang tertutup semak belukar dan daun-daun lapuk, stringline (tali raffia yang diikatkan pada pohon) penujuk jalan masih ada dibeberapa tempat meskipun sudah lapuk dimakan usia. Yang enaknya dari jalur ini adalah kondisinya yang lurus terus di satu punggungan dan dikiri kanannya ada aliran sungai. Saya memutuskan untuk terus melewati jalur ini, dan perlahan kami terus menambah ketinggian. Tidak ada pos pada jalur ini, yang ada hanyalah lumut tebal pada jalan setapak dan pohon-pohon disekitarnya.


Hari semakin sore, kami masih di jalur lama dan belum menemukan jalur normal, tapi dari altimeter di GPS sudah menunjukan ketinggian 2500 lebih, dan dari jenis tumbuhan vegatasi daerah puncak sudah mulai dijumpai dan ini membuat saya semakin optimis. Akhirnya kami sampai pada daerah yang jalan setapaknya tiba-tiba hilang, lalu Ogen pun ditugaskan memantau kedepan sementara yang lainnya menunggu, dan ternyata jalur normal tidak jauh dari kami hanya berjarak sekitar lima belas meter. Kami semua senang sekali dan yang lebih menyenangkan adalah sekitar sepuluh meter dari pertemuan jalur lama dan jalur normal ini adalah merupakan lokasi dari Pos II. Jarum jam menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit. Hujan kembali turun, kali ini cukup deras dan kamipun memutuskan untuk beristirahat di pos II masak dan berteduh. Dibawah bentangkan fly sheet kami duduk saling menghangatkan diri menunggu masakan matang. Dari pagi kami belum bertemu nasi. Sementara malam mulai turun dan hujan masih terus mengguyur, kami kemudian memutuskan untuk istirahat hingga jam sepuluh malam sambil menunggu hujan reda dan kemudian baru meneruskan kembali menuju alun-alun atau pendaki lokal menyebutnya dengan pelataran.

Tapi setelah perut cukup terisi proses pencernaan telah menghasilkan panas tubuh yang kami butuhkan. Setelah packing perlahan kami kembali meneruskan perjalanan menembus malam, iring-iringan headlamp (senter kepala) kami perlahan bergerak meninggalkan Pos II. Rute pendakian dari pos II ini terasa sangat menanjak dan tak jarang kami harus mengeluarkan tenaga ekstra memanjat undakan tanjakan yang tingginya kadang mencapai dua meter. Hujan telah berhenti namun kali ini kami ditemani kabut tebal dan angin kencang, sangking tebalnya kabut cahaya headlamp kami tidak mampu menembus jauh. Setelah perjalanan kemaren kami kurang cukup tidur ditambah lagi trekking malam membuat rasa kantuk mudah menyerang kami, setiap beristirahat maunya mencari tempat duduk yang nyaman dan tak jarang tertidur. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan tidur, namun lokasi untuk mendirikan tenda susah didapat, kami menemukan satu lokasi tapi hanya muat satu tenda, kemudian saya dan Yadoet memutuskan untuk mencoba men-survey kedepan mungkin ada lokasi yang bisa memuat tiga tenda, tapi nihil, sementara angin bertiup sangat kencang. Maka jadilah mau tidak mau kami harus mendirikan satu tenda saja, dari ketiga tenda yang dibawa tenda TNF seri Oval 25 kayaknya layak untuk dimuati tujuh orang dan kamipun mulai mendirikan tenda tersebut dibawah tiupan angin yang cukup kencang, lokasi tendanya pas sekali untuk ukuran tenda itu malah agak melipir kejurang. Semua ransel dan barang kami kumpulkan jadi satu diluar tenda, setelah berganti pakaian satu persatu kami memasuki tenda. Ajaib jumlah tujuh orang bisa masuk kedalam tenda ukuran dua orang (dua orang untuk ukuran standar dari pabrik TNF). Dengan sedikit improvisasi mengatur posisi tidur akhirnya kami bertujuh bisa juga berbaring meskipun tidak bisa bergerak banyak, dan jadilah malam itu kami ber ‘Seven sum’ di Dempo, ya bertujuh dengan satu tenda. Mungkin karena rasa capek dan rasa kantuk yang tak tertahan cepat sekali saya terlelap tidur meskipun sayup-sayup terdengar dengkuran cewek dan bahkan ada yang juga mengigau memanggil-mangil nama seseorang.

Cukup lama kami berlindung dari hujan dibawah bentangan flysheet (lembar anti air). Dan setelah hujan perlahan berhenti, jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, perut sudah terisi makanan, tadi sewaktu perut kosong hawa dingin gunung terasa sangat menusuk. Akan teSaya terbangun saat merasakan sentuhan hangat pada pipi saya, saat buka mata ternyata muka saya menempel pada diding tenda dan pas sekali tersiram dengan cahaya matahari yang menerobos lewat sela-sela pepohonan. Masih malas untuk bangun tapi harus bangun karena kami masih harus melewati etape tanjakan daerah cadas yang akan mengantarakan kami ke puncak Dempo, yang merupakan puncak kedua gunung ini. Gunung Dempo mempunyai dua buah puncak, yang pertama disebut dengan puncak Dempo, puncak ini akan pertama kali kita lewati saat mencapai kawasan puncak dan yang kedua disebut dengan Puncak Marapi yang merupakan puncak utama dari gunung Dempo. Selepas puncak Dempo jalan setapak akan turun menuju daerah alun-alun atau pendaki setempat menyebutnya dengan sebutan “Pelataran” padang rumpun ini cukup luas dan terdapat sumber air berupa sungai kecil yang mengalir jernih. Dari sini menuju puncak Marapi tidak jauh lagi hanya sekitar 30 menit pendakian. Kami bertujuh sampai di puncak Dempo ketika hari masih pagi dan setelah berfoto bersama kami segera turun menuju Pelataran dan sejenak beristirahat sembari minum teh hangat. Kemudian tidak membuang waktu kami segera bergerak menuju puncak utama.

Cuaca cerah sekali, langit biru berawan, kawah gunung Dempo jelas utuh terlihat berwarna putih kehijau-hijauan, warna air kawah gunung Dempo ini kadang kala berubah menjadi warna hijau pekat atau putih pekat. Saat dipuncak kami sempat bertemu dengan adik-adik dari kelompok pecinta alam Edelweiss Universitas Taruma Negara Jakarta. Setelah berfoto-foto dipuncak dan menikmati pemandangan dari puncak kami pun kembali beranjak turun menuju pelataran, dan memasak makan siang disana, untung sekali Halida membawa rendang dan Titi membawa orek tempe sehingga bisa dijadikan lauk teman makan nasi. Sebenarnya ada tawaran yang lebih menggiurkan lagi kami terima yaitu tawaran dari penduduk Pagar alam yang kebetulan tengah mengadakan upacara syukuran di pelataran dengan menyemblih kambing, tawaran ikutan makan daging kambing terpaksa kami lewatkan karena pasti bakal lama dan memakan waktu.

Perjalanan turun kami menggunakan jalur normal, namun jika dibandingkan dengan jalur lama yang kami pakai naik kemaren. Jalur normal ini jauh lebih hancur, saya bilang hancur adalah karena sangat terjal dan dipenuhi akar pohon yang malang melintang. Undakan tanjakannya tinggi-tinggi dan di perparah lagi dengan kondisi yang basah dan licin, harus ekstra hati-hati melewatinya dan di beberapa tempat kami menemukan pohon yang baru tumbang, mungkin ini disebabkan oleh badai yang lumayan kencang semalam. Jalur lama yang kami tempuh naik kemaren jalan setapaknya meskipun sudah tertutup oleh semak dan dedaunan tapi cukup kompak dan enak untuk ditapaki. Hanya sesekali kami menemukan rintangan berupa pohon tumbang atau jalur yang terputus. Cukup dengan orientasi medan dan dibantu dengan data dari GPS jalan setapaknya kembali bisa ditemukan. Tapi jalur normal meskipun sangat jelas, namun untuk mendakinya atau menuruninya kita harus berpegangan pada akar-akar pohon selain itu juga rute normal jalurnya beberapa kali pindah punggungan serta melingkar ini sangat berpengaruh pada kecepatan tempuh, jalur lama hanya bergarak lurus dalam satu punggungan meskipun punggungan yang terpecah akan tetapi masih dalam alur punggungan yang sama. Sewaktu berbicang-bincang dengan adik-adik dari Edelweiss saat kami bertemu lagi di Pos I, mereka menceritakan saat mulai mendaki dari pintu hutan sekitar jam delapan pagi dan sampai di Pos II jam lima sore, sedangkan kami mulai dari pintu hutan jalur lama jam sebelas siang dan sampai di Pos II jam lima sore lewat sepuluh menit, dan ditengah perjalananpun kami sempat beristirahat makan siang selama satu jam. Jadi sebenarnya jalur lama ini jauh lebih cepat dan lebih nyaman untuk di tempuh, dan selain itu banyak sumber airnya karena di kiri kanan jalur ada sungai yang mengalir.

Saya dan Yadoet turun duluan karena kami telah membuat janji dengan supir pick-up untuk menjemput kami di entri point kebun teh, akan tetapi mengingat sewaktu kami bergerak turun dari lokasi camp tadi sudah jam tiga sore, agaknya kalau tidak cepat-cepat tidak akan keburu sampai dibawah sana jam lima sore. Meskipun sudah berusaha cepat untuk sampai dibawah, karena keadaan medan jalan setapaknya yang sangat terjal dan dipenuhi oleh akar-akar pohon yang malang melintang membuat kami berdua tidak bisa berjalan dengan cepat dan akhirnya sampai di pintu rimba jam enam kurang sepuluh menit, dan tepat jam enam sore sampe di entri point jalan raya kebun teh dan suduh pasti mobilnya sudah tidak ada. Saya memutuskan untuk jalan terus hingga ke kampung empat dan mencari kendaraan disana nanti.

Titi dan Rina sampai di jalan kebun teh saat hari sudah gelap dan tak lama kemudian menyusul Ogen, Bang Kamser dan Halida dibelakang, untungnya saya dan Yadoet berhasil mendapatkan mobil sehingga bisa menjemput mereka hingga ke entri point kebun teh, lega karena semua bisa sampai dengan selamat dibawah. Malam ini juga kami langsung kembali ke Palembang, dan hanya mampir sebentar di Rumah Pak anton untuk mengambil barang-barang yang kami titipkan dan langsung menuju loket mobil travel yang telah kami booking untuk kembali ke kota Palembang, karena besok sudah menunggu perjalanan seru lainnya yang tidak kalah menyenangakan yaitu wisata kuliner dan hunting photo di jembatan Ampera.

Pesona si Gagah Tambora


“Allahuakbar…allah….huakbar…!!!” dengan lantang Zaidi member milis HC dari Malaysia mengumandangakan suara azan saat berada di puncak Gunung Tambora. Ya melihat bentangan pemandangan alam dari puncak Tambora ini terasa betul keagungan tuhan dan kecilnya kita dibandingkan dengan Nya. Menikmati kendahan dan pemandangan spektakuler dari kawah Gunung Tambora yang merupakan kawah kaldera terbesar di dunia ini, membuat perjalanan panjang dan juga cukup memacu kesabaran untuk mencapai puncak ini segera terlupakan.

Ya.. ini adalah perjalanan pendakian bersama highcamp yang kesekian kalinya semula yang daftar cukup banyak tapi pada saat pelasanaannya banyak juga peserta yang berguguran baik karena alasan pekerjaan dan urusan yang datang mendadak. Dan jadilah yang tadinya berjumlah 27 orang tersisa hanya 9 orang. Belum lagi pesawat kami dari Jakarta yang delay dan menyebabkan kami harus lari sprint di bandara Juada agar tidak tertinggal pesawat selanjutnya menuju Mataram, dan semuanya bisa berhasil dilalui berkat kerja sama tim yang kompak dari teman-teman seperjalanan. Dan tidak lama kemudian kami sudah berada didalam minibus yang bergerak meninggalkan kota Mataram menuju Desa Pancasila dimana titik awal pendakian ke puncak Gunung Tambora berada. Sampai di Desa pancasila pada keesokan paginya setelah menempuh perjalanan semalam suntuk dari Mataram, namun sempat sejenak menikmati sunset di selat Sumbawa sewaktu kami menyeberang dari pulau Lombok, terlihat puncak Rinjani yang mencuat berdiri.

Rute pendakian gunung Tambora banyak landainya namun berbelok-belok, dan untuk menyingkat waktu pendakian kami menyewa ojek motor untuk mengantarkan kami hingga ke batas hutan. Lumayan juga, karena bisa menghemat waktu dan tenaga, karena kalau ditempuh dengan jalan kaki akan memakan waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai di pintu hutan. Tapi kalau dengan ojek motor hanya kurang lebih 30 menit. Dari pintu hutan hingga ke Pos I jalannya lebih cenderung datar dan sesekali menanjak melewati semak belukar dan onak berduri, banyak sekali terdapat tanaman pakis sayur yang bisa dipakai untuk sayuran, pakis sayur ini beda dengan pakis hutan yang berbulu dan berasa pahit. Memasuki daerah Pos II mulailah kami disibukan oleh binatang kecil penghisap darah, ya…. PACET cukup banyak populasinya di hutan Tambora, ini menandakan ekosistim hutan Tambora masih bagus. Bianatan kecil yang tak kenal menyerah ini selalu berusaha untuk bergantung di kaki kami, adalah Mba Endah yang paling rajin menghitung jumlah pacet yang menempel di kakinya, “ wah ada banyak juga ya mba” timpal saya saat dia memberitahukan jumlah pacet yang berhasil dia buang dari kaki saat memasuki kawasan Pos II. Kami memang berhenti sejenak di Pos II disini ada pondok kecil dan dibawah pondok ini mengalir sungai kecil berair jernih. Tidak berlama-lama di Pos II, karena tanjakan cukup terjal sudah menanti kami, juga teman kecil yang haus darah masih tetap ada karena wilayah kekuasaan mereka hinga ke Pos III. Jalur pendakian menuju Pos III tidak begitu menanjak hanya selepas Pos II saja ada tanjakan setinggi kurang lebih seratus meter, setelah itu lebih cenderung moderat.

Pos III sendiri merupakan sebuah areal yang cukup luas bisa menampung sepuluh tenda, disini ada sebuah pondok dan sekitar 300 meter kita akan menjumpai sebuahmata air. Pos ini biasanya digunakan sebagai areal basecamp oleh pendaki, mereka akan menginap di sini dan baru dini harinya melakukan pendakian ke puncak. Pilihan seperti ini dilakukan karena pos IV dan pos V tidak memiliki sumber air. Pos III ini kami capai saat jarum jam menunjukan pukul 5 sore. Saya, Zaidi, Saeful dan Ermil terlebih dahulu sampai dan tak lama kemudian menyusul teman-teman lainnya. Bergegas kami mendirikan tenda, karena sore ini tampaknya mendung berat menggantung. Siang tadi kami dihajar hujan yang cukup deras sewaktu perjalanan dari pos I dan kembali hujan turun sewaktu mendekati Pos III. Satu persatu tenda mulai berdiri, dan keriuhan canda tawa ala basecamp mulai mewarnai suasana sore dan sama-samar semburan jingga sore masih bisa terlihat di balik mendung yang menggantung. Canda tawa Zaidi dengan logat melayu Malaysianya terdengar menimpali canda dari si Yadoet yang di juluki Nhanha sebagai “mahluk liar Tambora”. Kompor-kompor sudah dinyalakan dan semua sibuk dengan tugas masing-masing, ada yang mengiris bumbu dan sayur, ada yang menggoreng dan Bli Ermil yang berasal dari Bali, sibuk memasak nasi sementara bibir nya juga sibuk berkicau dengan logat Balinya yang khas. Nando yang telah membikin gempar orang-orang di sepanjang jalan karena wajah nya mirip sekali dengan Bam Vokalis band Samson, tenyata pintar sekali memasak. Tidak lama kemudian berkat dikerjakan secara keroyokan akhirnya ‘dinner’ kami pun siap disantap.

Malam semakin larut, dan perlahan satu demi satu dari kami mulai masuk kedalam kehangatan sleeping bag masing-masing, masih ada yang bertahan berbincang-bincang dan bercanda, tapi saya sudah lelah sekali, entahlah mungkin karena sehari sebelumnya saya makan bakso dan pedas sekali sehingga membuat saya terkena diare yang cukup parah, dan ini membuat kondisi fisik saya turun drastis. Lemas sekali badan saat mendaki namun pesona Tambora agaknya yang telah memberikan kekuatan tambahan pada saya untuk tetap melangkah. Perlahan obrolan diluat tenda makin lama makin terasa sayup dan akhirnya saya telah terlelap dibuai pelukan malam di Gunung Tambora.

Suara mba Endah di tenda sebelah membangunkan saya, saya melirik jarum jam sudah berada pada angka 2 lewat. Kami memang berencana akan melakukan pendakian kepuncak atau istilah kerennya ‘Summit attack’ pada jam 2 dini hari, namun sepertinya akan molor sedikit dari waktu yang direncanakan. Setelah sarapan seadanya dan berdoa bersama yang dipimpin oleh Zaidi, kami pun perlahan bergerak menembus malam, iring-iringan kami jelas telihat lewat cahaya head lamp dikepala masing-masing. Tantangan yang bakal kami hadapi selepas dari Pos III ini adalah hutan jelatang. Jelatang adalah sejenis tumbuhan yang berbulu dan bila tersentuh kulit akan menimbulkan rasa sakit perih dan panas, rasa perih dan panas tersebut akan semakin terasa jika kita mengusap-usap kulit yang terkena sengatannya. Jadi jika tersengat dengan daun Jelatang, biarkan saja, sakitnya hanya sementara jangan di usap. Jelatang atau dikenal juga dengan sebutan “Daun Pulus” di Jawa Barat, ini banyak sekali terdapat di sepanjang jalur dari Pos III hingga ke Pos IV. Dalam gelap malam kami harus extra hati-hati melangkah agar tidak tersentuh daun jelatang yang ada dikiri kanan jalan. Tak lama kemudian kami sampai di hutan jelatang, ya… semua tumbuhan di punggungan ini semuanya jelatang, untunglah ada pohon tumbang yang menjadi jembatan titian kami melewati hutan jelatang tersebut. Namun bukan berarti kami semua selamat dari sengatan jelatang, sesekali kena juga bahkan menembus pakaian, dan rasa nya aduuuhh.. perih bercampur panas. Pos IV kami lewati saat hari masih gelap, dan sewaktu mencapai pos V langit sedikit sudah mulai terang dan kondisi medan pendakian sudah terbuka sehingga kita bisa memandang kearah laut tampak sayup-sayup pulau Satonda yang tidak begitu jauh dari pantai Labuan Kenanga. Semakin terus mendaki bias matahari pagi semakin terang dan disambut oleh suara kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan ditambah lagi dengan kicauan burung, angin semilir menerpa daun cemara menghasilkan suara desau. Sungguh suatu simpony alam yang membuat pagi semakin segar untuk dinimati. Zaidi sudah duluan jauh didepan sementara saya dan Nando berjalan beriringan, dibelakang kami terlihat Bli Ermil yang terkadang sibuk dengan kamera videonya. Panjang memang etape dari Pos V menuju kawasan bibir kawah Tambora, jalannya berbelok-belok mengikuti kontur punggungan cukup membosankan tapi semua itu terbayar tak kala pandangan mata disuguhi dengan bentangan kawah raksasa yang sangat luas dan dalam… menakjubkan sekali, konon katanya butuh tiga hari untuk mengelilingi kawah ini, saya mencoba memperhatikan detailnya, diding kawah yang kok dan karena dalamnya kawah tersebut sehingga menghasilkan pemandangan yang menakjubkan. Didasar kawah tampak terlihat ada telaga genangan air berwarna kehijauan sebagai akibat dari belerang. Gunung ini masih aktif, terlihat dari asap sulfur yang keluar dari beberapa lubang kepundan kecil yang ada baik dinding dasar kawah maupun di dasarnya.

Seperti biasa naluri “Narsis” kami segera kambuh, sudah bisa ditebak kelanjutannya adalah foto-foto, saat itu baru ada saya, Nando, Zaidi dan Ermin yang baru sampai di bibir kawah, jadilah kami berempat mulai sibuk mengarahkan lensa kamera ke berbagai arah, luasnya kaldera Tambora ini tak mampu ditangkap utuh oleh lensa cameraku. Puas berada disini kami mulai melirik puncak yang berada disebelah kanan kami, dan saat melangkah kesana tiba-tiba kabut menutupi seluruh kawah, untung sebelumnya saya dah pernah tahu mendan Tambora ini jadi tidak terlalu susah untuk menemukan jalan setapak ke puncak.

Seperti biasa naluri “Narsis” kami segera kambuh, sudah bisa ditebak kelanjutannya adalah foto-foto, saat itu baru ada saya, Nando, Zaidi dan Ermin yang baru sampai di bibir kawah, jadilah kami berempat mulai sibuk mengarahkan lensa kamera ke berbagai arah, luasnya kaldera Tambora ini tak mampu ditangkap utuh oleh lensa cameraku. Puas berada disini kami mulai melirik puncak yang berada disebelah kanan kami, dan saat melangkah kesana tiba-tiba kabut menutupi seluruh kawah, untung sebelumnya saya dah pernah tahu mendan Tambora ini jadi tidak terlalu susah untuk menemukan jalan setapak ke puncak.

Dan begitulah, puncak kami capai sekitar jam delapan lewat seperapat. Masih berkabut, tapi tak lama kembali cerah tepat setelah Zaidi mengumandangkan Azan lambat laun seluruh kabut tersibak dan tampaklah pemandangan sosok kawah Tambora yang telah sangat besar, tidak heran jika letusan Tambora ini telah membuat eropah tidak mempunyai musim panas selama setahun dan ini juga telah membuat Napoleon kalah di Waterloo. Lama saya berdiri menikmati pemandangan yang spektakuler ini, gunung ini begitu termasyur karena sejarah yang ditorehkannya, beruntung rasanya bisa menjambangi lagi puncak gunung ini.

Satu persatu teman-teman kami mulai berdatangan, Fedy dan menyusul Nhanha, Mba Endah, Bang Kamser dan Yadi. Sementara kami yang telah dulu yaitu saya, Zaidi, Nando dan Ermil mengabdikan menyambut mereka dengan hangat. Seperti biasa kehebohan dari masing-masing dalam hal berfoto ria, melebihi para model-model kondang, foto keluarga bersama adalah hal yang wajib dan ditemani oleh spanduk dari para donatur kami yaitu CONSINA dan AVTECH. Bahkan photographer kami yaitu Bang kamser yang membawa peralatan photography yang sangat lengkap dengan tele panjangnya sempat mengabadikan kami yang duluan sampai di puncak dari kejauhan, pasti hasil fotonya bagus sekali. Cukup lama kami menikmati susasana puncak Tambora dan akhirnya tiba waktunya kami kembali turun ke Pos III, dengan diiringi kabut tipis yang mulai merayapi kawasan puncak kamipun mulai melangkah turun. Malam ini kami akan bermalam di Pos III dan besok paginya baru turun ke Pancasila, dan langsung menuju tujuan berikutnya yaitu Pulau Satonda, pulau ini menjadi tersohor juga karena disini terdapat danau air asin satu-satunya didunia (belum ada data lainnya yang membantah anggapan ini). Saya melangkah mengikuti jalan setapak yang membawa turun dari kawasan puncak, dengan membawa kenangan akan pesona si gagah Tambora………

One Trip with fun and loves


Jam 04.30 pagi, mudah-mudahan tidak terlambat batin saya sembari melambaikan tangan menyetop sebuah taksi dan dengan cepat ransel ukuran 40liter dengan berat 9kg itu saya lemparkan di jok belakang dan setelah itu segera duduk disamping sopirnya, “Kampung Rambutan pak” pinta saya memberitahukan arah tujuan. “masih pagi begini mudah-mudahan ngga macet, bisa ngga sampe sana jam 05.00 pak?” lanjut saya sembari bertanya. “Insya Allah” jawab sang sopir, dan taksipun melaju membelah jalan yang masih terlihat sepi. Saya dalam perjalanan menyusul teman-teman milis highcamp yang telah berangkat duluan tadi malam dan sekarang telah berada di Cibodas tentunya. Tadinya saya seharusnya bareng berangkat dengan mereka, akan tetapi karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal akhirnya membuat saya harus menyusul mereka dipagi buta ini. Kami akan melakukan pendakian bersama ke gunung Gede, tidak seperti pendakian bersama yang sudah-sudah, kali ini kami mencoba menerapkan prinsip-rinsip pendakian dengan gaya Ultralight Hiking, yakni pendakian dengan gaya minimalis tanpa mengorbankan keselamatan tentunya. Biasanya jika mendaki gunung Gede ini paling tidak saya membawa ransel 60liter atau 70 liter dengan berat 15kg sampai 20kg tapi kali ini berat ransel saya hanya 9kg, dan semua perlengkapan dan logistic sudah masuk semua, “wow asyikk” teriak saya sewaktu packing perlengkapan yang akan dibawa dan mengetahui beratnya Cuma 9kg. Dewi fortuna memihak saya, karena saat memasuki terminal, sebuah bus tujuan Bogor sudah siap berangkat dan segera bergerak saat saya meloncat kedalamnya. Bus ini tidak begitu penuh, setelah meletakan ransel saya dibawah tempat duduk, saya duduk dan memejamkan mata mencoba meneruskan tidur lagi, namun baru bisa terlelap setelah kenek menagih ongkos. Karena tidur yang lelap membuat perjalanan terasa begitu cepat dan tahu-tahu sudah sampai di Bogor. Di Bogor perjalanan kembali saya lanjutkan dengan menumpang angkutan kecil mobil L300 yang menuju Cianjur. Berbeda dengan bus tadi yang lumayan kosong, mobil L300 ini penuh sesak oleh penumpang dan saya kebagian duduk ditengah. Seperti biasa angkot L300 ini selalu ngebut, semula saya senang juga karena ini akan membuat saya bisa cepat sampai tujuan. Tapi kami hampir mendapat kecelakaan saat melewati kawasan puncak pas yang menurun tiba-tiba mobil didepan kami mengerem mendadak, sopir angkutan yang saya tumpangi tampak kaget dan berusaha mengerem, dan juga berusaha menjaga keseimbangan mobil padat tersebut. Ibu-ibu yang duduk didepan kontan berteriak sambil menyebut Asma Allah. Untunglah tidak terjadi kecelakaan dan dampaknya hampir semua penumpang mengomelin sopir itu. Sekitar jam 06.30 saya sampai juga di Cimacan dan turun di pertigaan Cibodas. Segera saya menyetop angkot yang kebetulan melintas dari Cipanas menuju Cibodas, hanya 3 orang penumpang didalamnya, dan angkot itu segera melaju. Angin pagi yang segar dan masih dingin menerpa wajah saya, terasa segar sekali. Di Cibodas segera saya menuju warung Mang Idie, sebetulnya rencananya mereka akan menginap di basecampnya Yayasan Survival Indonesia milik Kang Herry Macan, namun rupanya tadi malam tempat itu penuh juga oleh para pendaki yang menginap, alhasil mereka akhirnya menginap di warung Mang Idie yang juga sering dijadikan sebagai tempat persinggahan oleh para pendaki. Saya tertawa lebar saat melihat teman-teman highcamp semua sudah pada nongkrong didepan warung, dan saya melirik jam dipergelangan tangan, “ah.. masih jam 06.50, ternyata saya tidak terlambat” gumam saya sembari mendekati mereka dan menyalami mereka satu persatu, saya memang semalam berjanji sama Heru dan Ori via sms bahwa saya akan datang jam 07.00 pagi.

Perjalanan kami awali dengan berdo’a bersama yang dipimpin oleh Hasbullah, setelah itu kamipun berjalan beriringan menuju Gerbang Cibodas. Hampir semua peserta membawa daypack, namun ada juga yang tidak. Mahmudin, Oblong dan Pongky saja yang tampak membawa ransel yang berukuran lumayan besar. Rupanya Ponky sedianya tidak ikut rombongan kita, karena mereka punya rombangan sendiri, namun rupanya teman-teman dia tidak datang, karena logistik sudah terlanjur dia beli akhirnya dia dan dua orang temannya yang lain yaitu Ela dan Adam memutuskan untuk gabung dengan kami. Sekitar jam 08.00 kami memulai perjalanan setelah Heru sang moderator highcamp dan pimpinan rombongan ini selesai mengurus perijinanan, semula kami berjalan beriringan namun seperti biasanya kembali rombongan terpecah menjadi tiga group yang meyesuaikan dengan laju kecepatan langkah masing-masing. Kami melangkah dengan santai dan dengan ritme yang tetap tanpa terburu-buru, hal ini sangat membantu dalam mengatur nafas. Sekitar jam 11 siang rombongan pertama didepan sampai di air terjun Kandang Batu dan memutuskan untuk makan siang disana sembari menunggu teman-teman yang dibelakang. Tidak lama kemudian merekapun muncul dan segera membuka bekal makan siang, rupanya menu UH teman-teman semua beragam, tapi satu judulnya yaitu makan yang sudah dimasak. Yang paling menerbitkan selera adalah makanan yang dibawa Yenny yaitu nasi liwet dengan berbagai macam lauk, dari mulai tempe bacem hingga ke ayam goreng.

Cukup lama kami istirahat di tempat ini, kami baru mulai bergerak melanjutkan perjalanan setelah sadar kalau ternyata sudah jam dua siang. Untunglah dalam perjalanan ke shelter Kandang Badak kami tidak sering berhenti sehingga sekitar jam tiga sore kami sudah berada di Kandang Badak, dan kami memutuskan untuk lanjut segera menuju puncak agar tidak terlalu kemalaman sampai di Suryakencana. Saat sampai di kawasan puncak jarum jam menunjukan jam 04.15, angin bertiup cukup kencang beberapa orang teman seperti Ori, Hasbullah, Hanif, Pongky, ella dan Adam masih belum terlihat. Setelah masing-masing beraksi didepan kamera, kami kembali beranjak menuju puncak dan dipuncak kami hanya berhenti sejenak untuk berfoto bersama setelah itu segera kami turun menuju Surya kencana. Tidak sia-sia usaha kami sekitar jam 06.15 kami sampai disana dan segera mendirikan tenda. Angin bertiup sangat kencang, membuat saya cukup repot mendirikan bivy sherter saya yang hanya mempunyai dua rangka dan bergantung penuh pada pasak agar bisa berdiri kencang. Rombongan Ori datang tidak lama berselang kemudian. Setelah tenda berdiri seperti biasa kami ngumpul untuk memasak bareng, dan suasana kembali riuh saat canda dan tawa kembali menghiasi suasana malam itu, topiknya adalah Raymond dan Anna DM yang ternyata saling ‘suka’. Dan semakin seru saat mengetahui ternyata Anna DM lebih responsive dan Raymond yang malu-malu kucing membuat trigger banyolan semakin menjadi. Rombongan kami bertambah satu orang lagi saat Aconk akhirnya hadir bersama kami, dia rupanya datang menyusul sendirian. Sekitar jam satu malam kami masuk ketenda masing-masing sementara angin Suryakencana semakin bertiup kencang dan menimbulkan suara pada tenda-tenda kami. Untunglah Bivy saya bisa bertahan menghadapi angin kencang, suhu terendah malam itu sekitar 3 derajat celcius, dan tidak ada kondesasi yang terbentuk didalam lapisan bivy, meskipun bivy saya ini hanya single wall. Lewat jendela Bivy saya bisa menikmati langit yang bertaburan bintang-bintang dan akhirnya sayapun terlelap dibuai suara angin lembah Suryakencana.

Pagi harinya saya dibangunkan oleh suara para pedagang nasi uduk yang menawarkan dagangan mereka. Para pedangan ini berasal dari desa Gunung Putri, mereka menawarkan satu bungkus nasi uduk seharga Rp.3.000,- sungguh suatu harga yang sangat tidak sepadan dengan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh dari desa mereka hingga ke kawasan alun-alun Surya kencana ini. Perlahan saya keluar dari Bivy dan rupanya hendri SP sudah bangun dan tengah nongkrong didepan tenda Oblong, didalam tenda sudah ada Raymond, Adam, Oblong dan Suwasti. Seiring dengan naiknya matahari teman-teman lainnya juga sudah mulai pada bangun dan mulai menyalakan mini trangia mereka untuk sarapan, semalam kami tidak menemukan air bersih yang ada hanya air genangan yang kotor, rupanya pagi ini Oblong menemukan sumber air yang layak minum.

Setelah matahari semakin meninggi satu persatu penghuni tenda lainnya mulai keluar dari kepompong (baca sleeping bag) mereka. Cukup ramai juga rupanya Suryakencana pagi ini. Sinar matahari yang masih lembut dan merah membuat para photographer amatiran sibuk mengabadikan eloknya pemandangan di Suryakencana ini. Kami berencana untuk turun lewat Gunung Putri, dan menurut Heru sang komandan perjalanan UH ini kita akan mulai bergerak turun sekitar jam 10 pagi. Pagi ini korban olok-olokan bertambah lagi yaitu Pongki dan Ella, sedangkan Raymond dan Anna DM juga menjadi semakin seru setelah Raymond menyuapi sepotong pudding bikinan Oblong pada Anna DM, jadi dengan begitu mereka resmi jadian…. (apakah betul…?)

Setelah sarapan dan packing peralatan kami pun siap untuk turun dan seperti biasa perjalanan selalu dimulai setelah berdoa yang dipimpin oleh Hasbullah. Langit biru cerah angin bertiup cukup kencang dan Suryakencana pun perlahan kami tinggalkan. Sepanjang perjalanan turun kami tidak henti-hentinya bercanda disetiap ada kesempatan ngumpul, pastilah banyolan kami mengarah pada Raymond dan Anna juga pada Ponki dan Ella. Terlebih lagi ada Ori yang paling pintar nimpalin. Tidak bisa dipungkiri karena sikap mereka telah menjelaskan semuanya, benar juga kata Ical perjalanan UH ini adalah perjalanan yang pantas diberi judul “one trip with fun and loves” Sekitar jam 14.00 siang perjalanan kami akhirnya berakhir setelah kami sampai di Pos Lapor di Gunung Putri, dan sesudah mengikuti formalitas aturan main TNGP yang dihandle oleh si ketua rombongan Mr. Heru. Kami pun segera turun menuju warung untuk makan dan minum dan juga beberapa teman langsung menumpang mandi di rumah pemilik warung.

Perjalanan Ultralight Hiking ini sukses dan menyenangkan, biarpun ada juga teman kami yang membawa ransel lebih dari 40lt dan juga membawa tenda besar, tapi secara tim kami berhasil bekerjasama mewujudkan perjalanan ini menjadi menarik dan menyenangkan. Saya pribadi merasa semua peralatan ultralight yang saya bawa berfungsi dengan normal, baik itu Bivy, sleeping bag, matrass, dan lainnya. Namun saya merasa masih belum begitu maksimal, perlu ada beberapa inovatif lagi agar bisa menjadi lebih praktis dan ringkas. Menyenangkan sekali naik gunung dengan beban yang ringan tapi tetap bisa nyaman tanpa takut harus kedinginan oleh angin dan suhu dinginnya malam di puncak gunung.

Melintasi Savanna Hya Argopuro


“Wah.., banyak banget es diatas tenda bang..!” teriak beberapa teman memecahkan kesunyian pagi di tepi telaga Taman Hidup yang merupakan camp I kami dalam pendakian bersama milis highcamp di gunung Argopuro Jawa Timur. Memang semalam saja sekitar jam sepuluhan suhu sudah 0ยบ C, pasti dini hari tadi bisa drop dibawah nol. Semua rumput disekitar tenda terlihat memutih tertutup lapisan embun yang membeku. Sementara tampak diatas telaga Taman Hidup kabut putih yang mengambang, hari ini cerah sekali langit biru pekat sempurna. Satu persatu teman-teman mulai keluar tenda dan memulai ritual pagi mereka, ada yang masak, ngobrol dan bengong menikmati suasana pagi yang suhunya masih membuat badan mengigil.

Begitulah sedikit gambaran camp pertama kami di hari kedua dalam event pendakian bersama HC tahun 2006 di Gunung Argopuro. Dalam pendakian ini kami semuanya berjumlah 22 orang dan didukung 6 porter. Hari pertama bermula saat kereta api malam Bima meninggalkan stasiun Gambir-Jakarta, ada 8 orang dalam rombongan kami dari Jakarta yaitu, Bang Hendrik, Mba Deasy, Lili, Toto, Dasmir, dan saya. Saat kereta sampai di stasiun Jogjakarta begabung satu orang lagi dalam rombongan kami yaitu Hafied member milis HC asal Jogjakarta, tapi saat itu kami tidak sempat ngobrol banyak karena kereta masuk Jogjakarta pada tengah malam dan rasa kantuk mengalahkan keinginan untuk ngobrol sama Hafied, alhasil saya kembali tertidur pulas.

Sekitar jam 6.30 pagi kereta yang kami tumpangi memasuki stasiun Gubeng Surabaya, dan dari sini kami akan beganti kereta dengan kereta Mutiara Timur tujuan Banyuwangi dan turun di Probolinggo. Lili dan saya ngurusin beli karcis, sempat harap cemas ngga kebagian tempat duduk karena sebelumnya kami dapat info kalau kereta ini sudah nyaris penuh. Ternyata saat sampai di loket masih banyak tempat duduk di kelas bisnis, jadi dengan mengeluarkan Rp.20.000,- per orangnya kami sudah mengantongi karcis kelas bisnis kereta Mutiara Timur. Kereta berangkat jam 9.10 WIB, masih banyak waktu untuk sarapan dan isitirahat, stasiun Gubeng pagi ini sudah ramai oleh para penumpang. Stasiun yang mempunyai dua sisi pintu keluar dan masuk ini cukup bersih dan nyaman. Pada sisi pintu masuk dan keluar yang baru, banyak terdapat bangku-bangku untuk tempat penumpang istirahat menunggu dan ditengah-tengahnya ada panggung kecil, dan di panggung inilah pengamen beraksi menghibur para calon penumpang. Mereka mengamen dengan peralatan musik lengkap dan alunan lagu yang dinyanyikan oleh penyayinya pun tidak kalah merdunya. Banyak yang terkesan dengan lagu mereka, ini terbukti dengan banyaknya orang yang memasukan duit pada tabung yang telah disediakan didepan panggung. “Ngamennya ala luar negri” celetuk saya sambil senyum ke arah Hendri SP.

Kereta Mutiara Timur meninggalakan stasiun Gubeng tepat jam 9.10, mhmm…. Ontime juga pikir saya. Sebetulnya masih ada satu lagi teman dari Surabaya yang menurut rencana akan bergabung, tapi karena satu dan lain hal dia terpaksa tidak jadi ikut. Tadi saat menunggu di Gubeng sempat kontak via telpon dengan Nia yang mengabarkan kalau dia sudah sampai di Bermi dan saya menyarankan untuk menunggu kami saja di penginapan Rengganis. Nia adalah member milis highcamp asal Bandung, dia bekerja pada Direktorat Vulcanologi Bandung dan kebetulan tengah bertugas di Bali mengawasi gunung Agung. Cewek manis berjibab ini rupanya orang pertama dari rombongan highcamp yang telah sampai di Bermi pagi ini. Selain Nia, saya juga sempat kontak dengan Pak Denny, anggota milis highcamp Jakarta yang berangkat dengan pesawat pagi ini, beliau mengabarkan kalau sudah sampai Juanda dan tengah menunggu Mba Endah dari Balikpapan. Mba Endah juga member milis HC dari Kalimantan. Sementara anggota rombongan lainnya yaitu Rizky yang sudah berada di Surabaya dari dua hari yang lalu mengabarkan kalau dia dan Dipa (HC Bandung) serta beberapa teman dari Surabaya yaitu, Kunto, Bagong dan Joko tengah meluncur menuju Probolinggo dengan menumpang bus pagi, sedangkan Ori si Master Plan pendakian tetap memantau dari Jakarta. “Sepertinya everything is Ok nih” gumam saya sambil memandang keluar jendela kereta yang tengah bergerak meninggalkan kota Surabaya menuju Probolinggo. Teman-teman ada yang bengong dan ada juga yang melanjutkan tidurnya yang mungkin masih terasa kurang.

“Ooooiii…. Dah nyampe Probolinggo lho..!!” teriak Lili, untung ada yang sadar dan ngga sampai kelewatan. Rupanya kami tengah sibuk masing-masing sebingga luput memperhatikan nama stasiun. Tapi syukurlah kami bisa buru-buru turun dengan mengendong ransel masing-masing. Rencananya di Probolinggo Juniornya Ori akan menunggu kami, Ori menempatkan juniornya karena dia tidak bisa ikutan even pendakian bersama yang dirancangnya ini dikarenakan dia jatuh sakit satu bulan sebelumnya dan hingga sekarang masih dalam fase penyembuhan. Tapi dia tetap tidak lepas begitu saja (thanks Ori), dia menempatkan 3 orang junior didikannya untuk bergabung dengan kami. Mereka adalah Agung, Chairul dan Hamimah. Merekalah yang membantu kami dalam mencari porter di Bermi. “Tapi tunggu punya tunggu kemana mereka? kok tidak tampak puncak hidungnya.” Gumam saya sendirian, saya coba menelpon tapi tidak diangkat akhirnya dari pada lama menunggu saya kontak Rizky yang sudah berada di terminal bus Probolinggo untuk nyari angkutan yang bisa di carter untuk mengantarkan kami ke desa Bermi. Rizky menyanggupinya dan sementara menunggu kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tak lama kemudian mobil cateran yang berisikan Rizky and the gank pun datang kami segera loading barang dan tancap gas menuju Bermi setelah mampir terlebih dahulu menjemput juniornya Ori. Cuaca cerah probolinggo dan suhu yang cukup penyengat mengatarkan kami menuju Bermi. Memasuki kawasan penggunungan angin yang berhembus lewat jendela mobil mulai terasa sejuk dan segar, meskipun begitu tidak menghilangkan kesan pemandangan musim kering yang berdebu.

Tak lama kemudian mini bus yang kami tumpangi sudah memasuki pelataran halaman penginapan Rengganis, gunung Argopuro tidak terlihat karena terhalang awan, namun udara terasa sejuk, dipelataran halaman samping tampak beberapa orang sedang shooting, rupanya ada artis lokal yang tengah membuat video clip, semula kami tidak menyadarinya karena sibuk dengan unloading ransel-ransel kami dari atas bus. Belakangan baru kami melihat ada artis dangdut lokal yang tengah beraksi, lumayan buat ganti-ganti pemandangan.

Penginapan Rengganis ini, lebih tepatnya disebut villa karena berupa sebuah rumah besar dengan lima kamar kapasitas 4 orang, berhubung kami ada banyak terpaksa satu kamar kami isi melebihi kapasitasnya, sewa satu kamar adalah semalamnya Rp.40.000,- cukup murah pikir saya. Saat saya, Lili dan Rizky kembali dari pengurusan perijinan pendakian di Polsek, rupanya Pak Denny, Mba Endah dan dua teman Mba endah dari Jogja yaitu Pram dan Indra sudah sampai di penginapan begitu juga dengan Arief si anak Dayak Kalimantan yang berdomisili di Malang juga sudah tampak hadir. Lengkap sudah tim kami berjumlah 22 orang dan sudah berkumpul semua. Malam ini kami akan menginap di penginapan ini dan besok pagi harinya kami akan memulai etape pertama perjalanan pendakian bersama ini menuju Telaga Taman Hidup dan mendirikan camp pertama disana.

Tak terasa senjapun mulai jatuh di desa Bermi, beberapa diatara kami tampak asyik ngobrol dan ada juga yang asyik repacking dan membenarkan settingan ransel yang bakal mengganduli punggung selama pendakian nanti. Setelah briefing singkat dengan porter mengenai teknis perjalanan besok, akhirnya satu persatu dari kami mulai terlelap dibawa mimpi masing-masing………

Hiruk pikuk teman-teman yang sudah bangun membuat saya terjaga, ternayata diluar sudah terang benderang. Dari jendela yang tidak ada gordennya terlihat jelas sosok pegunungan Argopuro terbalut kabut tipis pagi hari, saya keluar sebentar untuk merekam beberapa gambar dengan handycam. Tepat jam 08.00 semua teman-teman sudah siap untuk segera memulai etape pertama perjalanan pendakian bersama ini. Kami mulai mendaki lewat jalur yang biasa dipakai oleh penduduk. Jalur ini sedikit lebih cepat jarak tempuhnya dari pada jalur yang biasa dipakai pendaki. Semangat terpancar dari wajah teman-teman yang ikut dalam perjalanan ini. Setelah menyusuri jalan kampung kemudian berbelok ke kiri memasuki daerah perladangan penduduk, dan mulai manajak, daerah ini banyak ditumbuhi oleh pohon jati. Etape pendakian pertama ini akan berakhir di Telaga Taman Hidup disini kami akan mendirikan camp pertama. Tidak banyak yang istimewa disepanjang jalur pendakian dari Bermi ke Taman Hidup ini kecuali jalan setapak yang masih rimbun oleh semak dan cukup bersih dari sampah. Rombongan mulai terpecah jadi beberapa kelompok karena menyesuaikan dengan laju kecepatan pendakian masing-masing, tapi pada intinya masih tetap dalam kesatuan gerak. Mendekati daerah Taman Hidup jalur pendakian cukup menanjak tajam. Dan kemudian turunan yang berujung pada sebuah pertigaan. Jalur kekanan akan mengantarkan kita sampai di Telaga Taman Hidup. Malam pertama kami di Taman Hidup akan kami habiskan di pinggir telaga ini, rombongan pertama yang sampai di sana sekitar jam 03:00 sore dan segera mendirikan tenda persis dipinggir telaga, semula porter kami pada bilang pasti kami akan kedinganan, saya tersenyum dan bilang “kalo takut kedinginan ya di Jakarta aja..” Tidak lama kemudian tenda kami sudah berdiri melingkar. Malam harinya langit penuh bintang, indah sekali dan dingin sekali…….

Taman hidup adalah sebuah telaga yang teletak ditengah lembah dan dikelilingi oleh bukit, jika cuaca cerah dan matahari bersinar terkadang kita bisa melihat ikan yang berenang didalam airnya yang jernih dan beriak kecil. Pada malam di musim kering, suhu di sekitar telaga ini bisa turun dratis hingga titik nol, begitulah yang kami alami sewaktu menginap disini, saat tadi malam kami ngumpul di tenda Pram sekitar jam 10 saja suhunya sudah nol derajat celcius, makanya pagi ini banyak sekali butiran es dari embun yang membeku diatas tenda saya dan menjadi totonan menarik bagi teman-teman, rumput-rumput disekitar tenda kamipun memutih tertutup embun yang membeku, “mhmmm… frozen morning..” gumam saya sembari memencet shutter camera mengabadikan suasana pagi itu di sekitar basecamp kami di Taman Hidup. Ritual pagi memasak sarapanpun dimulai, Lili sebagai ‘emak’ di regu saya mulai sibuk bikin nasi goreng, sementara teman-teman yang terbagi dalam beberapa regu juga sudah memulai aktifitasnya.

Hari ini merupakan etape kedua dari pendakian bersama ini, etape kedua ini dari Taman Hidup hingga ke Cisentor, dan merupakan etape yang cukup panjang melingkari punggunan dan turun naik bukit, jalan setapaknyapun tertutup oleh semak-semak yang cukup tebal yang terkadang membuat susah untuk melangkah. Sesekali ditengah perjalanan kami melihat kera hitam berloncatan diatas pohon. Pada etape ini juga banyak ditemukan daun jelatang atau daun bulus, jika daun ini sampai bersentuhan dengan kulit maka kita akan merasakan gatal dan panas yang luar biasa. Bahkan Lili yang sudah memakai baju lengan panjang masih bisa tembus disengat oleh daun ini. Karena panjangnya jalur trek yang dihadapi membuat kami terpaksa harus menikmati santap siang ala kadarnya, yaitu berupa roti, coklat dan makanan ringan lainnya. Aeng Kenik kami capai sekitar jam 2 siang, dan setelah mengisi persediaan air serta istirahat secukupnya kami kembali melanjutkan perjalananan mengikuti jalan setapak yang berputar-putar naik turun bukit. Keadaan jalan setapak disepanjang rute etape kedua ini memang cukup membosankan, namun saat-saat terakhir kita akan bertemu sebuah savanna dan merupakan savanna yang pertama kita temui untuk jalur Bermi. Keindahan savanna kecil ini rasanya cukup sebagai pengobat bosan setelah melewati jalur pendakian panjang yang membosankan.

Setelah melewati savanna kecil ini jalur pendakian kembali menuntun kami memasuki lebatnya hutan Argopuro, dan sekitar jam 4 sore rombongan pertama memasuki Cisentor. Di Cisentor ini terdapat sebuah pondok dan didepan pondok tersebut ada tanah yang cukup lebar hanya saja sedikit miring, sedangkan di sisi kiri sebelah atas pondok terdapat tanah lapang akan tetapi permungkaan tanahnya berlobang-lobang dan bergelombang. Jelas sekali terlihat lobang-lobang tersebut adalah hasil kerja dari pada babi hutan alias celeng yang mencari umbi-umbian dan cacing tanah yang merupakan makanan pokoknya. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda didepan pondok dengan harus menerima kondisi tanah yang sedikit miring. Meskipun begitu setelah semua rombongan sampai di Cisentor, sebanyak 11 tenda berhasil kami dirikan pada lahan sempit dan miring tersebut, dan jadilah pemukiman kami seperti pemukiman di daerah yang padat dan rapat seperti ‘gang kelinci’. Mungkin karena rasa capek yang lumayan mendera setelah perjalanan panjang pada etape ke dua ini, tampaknya teman-teman kehilangan nafsu untuk ngumpul dan ngobrol diluar tenda, selesai makan rata-rata mereka langsung masuk kedalam sleeping bag masing-masing. Dan malampun semakin larut, kamipun terlelap diiringi kemericik suara air yang bersumber dari sungai yang tidak jauh dari lokasi perkemahan kami…………

Malam terasa pendek sekali, mungkin karena sangat capek setelah menempuh etape pendakian yang terpanjang di gunung ini kemaren membuat saya tertidur pulas semalam hingga pagi harinya. Dentingan misting dari tenda sebelah membangunkan saya, rupanya “the honeymoon couple” Lili dan TOTO sudah bangun dan lagi memasak sesuatu, sementara teman satu tenda yang namanya juga sama dengan saya sudah bangun duluan rupanya. Tiba-tiba pintu tenda ada yang membuka dan kepalanya Hendri SP teman satu tenda saya nongol, “Minum bang?” dia menawarkan secangkir the manis anget, wadung baik sekali teman yang satu ini. Rasa hangat hangat dan nikmat the manis segera menghangatkan kerongkongan dan perut saya, perlahan saya keluar dari tenda “mhm masih jam 6 pagi rupanya” gumam saya perlahan setelah melirik jam dipergelangan tangan. Sebagian teman-teman masih terlelap, hari in adalah hari summit attack kami, seleruh barang kami tinggal di Cisentor, dan kami hanya akan berbekal makanan dan minuman saja untuk perjalanan ke puncak nanti.

Dari rencana awal jam 7 sedikit molor hingga baru jam 8.30 kami baru mulai bergerak menuju puncak, sementara di cisentor, Rizky, Kunto, dan Joko serta 4 orang porter tidak ikut ke puncak, mereka memilih bersantai saja di Cisentor menunggu kami. Perjalanan ke menuju puncak melewati banyak sekali padang rumput, namun saying sekali disetiap savanna yang kami lewati penuh lobang, rupanya populasi babi hutan cukup tinggi disini. Bahkan saat kami sampai di Rawa Embik, padang rumput disana sudah berlobang-lobang karena di gali oleh babi hutan yang mencari makanannya berupa umbi-umbian dan cacing. Untunglah kami tidak jadi untuk menjadikan Rawa Embik ini sebagai lokasi Camp II, pasti tidak akan nyaman sekali tidur malam hari sementara banyak babi hutanyang berkeliaran. Saya, Pak Denny, Hendri SP, Chairul dan Hamimah, lebih dulu sampai di Rawa Embik, sementara teman-teman yang lainnya masih dibelakang. Saat memasuki Rawa Embik kami sempat melihat tiga ekor burung merak, tapi sayang keburu terbang karena mungkin kaget mendengar suara Chairul yang kalau berbicara selalu dengan suara yang keras dan lantang. Rawa Embik adalah sebuah savanna yang cukup luas dan ditengahnya megnalir kali kecil berair jenih. Dipinggir kali kecil itu banyak ditumbuhi oleh daun salada air. Banyak juga pendaki yang menjadikan tempat ini sebagai basecamp sebelum mendaki ke puncak, karena jarak kepuncak jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan Cisentor. Kami tidak lama berhenti disini setelah mengisi ulang persediaan air, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, savanna demi savanna kami lewati dan sementara semerbak wangi bunga abadi edelweiis memenuhi udara. Memang saat kami berkunjung ke gunung ini bertepatan dengan saat bunga-bunga perlambang cinta abadi itu bermekaran, semerbak wanginya selalu tercium saat kami melewati pada savanna yang banyak ditumbuhi bunga tersebut.

Tidak lama kemudian kami telah memasuki savanna lonceng, savanna ini merupakan pertigaan jalur menuju puncak utama Argopuro dan puncak Rengganis. Konon menurut legenda, Savanna Lonceng ini adalah tempat para pengawal Dewi Rengganis menambatkan kuda-kuda mereka. Untuk mencapai puncak utama Argopuro dari Savanna Lonceng ini kita belok kekanan membelah tengah savanna, dari savanna ini puncak Argopuro jelas terlihat dan sangat dekat. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di puncaknya, puncak Argopuro banyak ditumbuhi oleh cemara gunung dan ini membuat sejuk meskipun kami sampai di puncak ini pas tengah hari bolong dan matahari bersinar garang, namun kesejukan angin dan rindangnya pohon cemara gunung membuat kami betah berlama-lama dipuncak yang lebarnya hanya 8 x 8 meter ini sembari menunggu teman lainnya yang masih bergelut dengan tanjakan akhir untuk mencapai puncak Argopuro. "Oiiii puncak...... hahahahahahaha..." teriak pak Denny sembari ketawa lebar.

Setelah semua teman sampai puncak dan kami membuat kenangan foto bersama, kemudian kamipun turun melewati jalan setapak kearah yang berlawan dari yang kami daki tadi, jalan setapak ini turun menuju puncak kedua tertinggi di kawasan ini, kami menamakan puncak ini dengan “PUNCAK ARCA” karena di bawah sedikit dari puncak ini ada sebuah arca, namun sayang tangan-tangan maling telah memotong kepala arca tersebut. Dari gigiran punggungan Puncak Arca kita bisa melihat jelas jejeran pegunungan Mahameru, Bromo, Arjuno kompleks dan juga gunung Lamongan. "Aduh ngga nyesel ikut.." kembali Pak Denny berseru takjub melihat suguhan pemandangan yang ada. Keadaan puncak Arca sendiri terdiri dari banyak bongkahan batu-batu, namun jika kita perhatikan dengan seksama nampak jelas batu-batu tersebut seperti disusun dengan rapi menyerupai sebuah bangunan, jelas tak salah lagi lokasi ini juga merupakan sebuah kompleks bangunan tua atau mungkin saja candi yang telah rusak dimakan usia atau tangan-tangan jahil pencoleng benda purbakala. Kami tidak terlalu lama di puncak Arca, setelah melewati puncak ini kami kembali turun ke sisi lainnya tidak jauh dari puncak kami menemukan dua batu yang berbentuk gerbang, kemudian kami mengambil jalan setapak yang berbelok ke kiri dan turun kembali kearah Savana Lonceng, sementara dikiri jalan tampak jelas kawah mati Rengganis.

Setelah kembali melayari savanna lonceng kami tiba kembali di lokasi pertigaan tadi, dan kemudian segera bergerak mendaki puncak yang paling popular olrh pendaki yaitu puncak Dewi Rengganis. Hanya butuh waktu sepuluh menit dari pertigaan savanna lonceng kemudian kami sudah memasuki areal pucak Dewi Rengganis, bau belerang segera menyerbu hidung kami, hampir seluruh puncak ini berwarna putih karena belerang dan saat memasuki reruntuhan candi Rengganis bau belerang kian tajam. Tak pelak lagi jika kita melihat keadaan puncak Rengganis ini agaknya cerita tentang Dewi Rengganis mungkin benar adanya. Dipuncak ini terlihat jelas bekas reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu, ada beberapa kamar-kamarnya serta undakan-undakan hanya sayang sekali tempat yang dipercaya sebagai kuburan Dewi Rengganis sekarang tampak hanya seperti susunan batu-batu dan ada beberapa sesajen diatasnya. Dari puncak Rengganis ini kita juga bisa jelas melihat beberapa jejeran pegunungan di timur pulau jawa. Setelah cukup puas kami memutuskan untuk turun menuju Cisentor kembali, sementara beberapa teman masih asyik mengexplore kawasan puncak Rengganis.

Perjalanan turun tidak terlalu lama seperti halnya perjalanan pendakian tadi, sekitar jam 3 beberapa dari kami sudah berada kembali di Cisentor. Sedangkan teman lainnya masih di belakang dan tidak terlalu jauh jaraknya. Setelah melihat keadaan fisik dari beberapa teman dan menimbangnya bersama, kami memutuskan untuk menginap kembai di Cisentor dan baru ke esokan harinya kami akan terus turun ke Cikasur. Malam ini kami mendata ulang jumlah logistik yang tersedia, untunglah sebelum berangkat kemarin saya menganjurkan untuk melebihkan logistik untuk satu hari dari rencana pendakian kami, jadi kami masih punya logistic cukup meskipun ada beberapa regu juga yang menipis logistiknya, akan tetapi kami memutuskan untuk nantinya di Cikasur membuat dapur umum saja dan masak bersama untuk keseluruhan regu. Malam ini kami isi dengan ngobrol bareng sembari minum teh, dan tak terasa malampun mulai larut dan perlahan satu persatu dari kami masuk ketenda masing-masing dan terlelap dihangatnya pelukan sleeping bag mereka.

Pagi ini kami rata-rata pada bangun siang karena memang sesuai rencana kami baru jalan menuju Cikasur pada jam 10 pagi. Seperti biasa suasana pagi ini di camp Cisentor masih sepi beberapa tenda masih tertutup rapat, tapi sementara di sungai suara beberapa orang perempuan terdengar, rupanya sudah ada juga yang bangun pagi pikir saya sembari kembali bergelung didalam sleeping bag. Cikasur hanya berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Cisentor dan tepat sekitar jam sepuluhan kamipun mulai bergerak meninggalkan Cisentor, setelah menyeberangi sungai di Cisentor kami kembali dihadapkan pada sebuah tanjakan yang cukup curam dan dibeberapa tempat masih dijumpai daun jelatang yang membuat kami terus waspada agar tidak tersengat. Beberapa saat jalan setapaknya masih melipiri punggungan dan tak lama kemudian barulah kami dihadapkan pada beberapa bentangan padang rumput yang cukup luas, "kayak filem Little house on praire nih..." ujar Dipa sewaktu kami memasuki sebuah savanna yang lumayan luas. Dan setelah beberapa kali keluar masuk savanna akhirnya kami sampai pada sebuah bentangan savanna yang sangat luas, yah inilah Cisentor yang konon menurut cerita ditempat ini dulunya pada jaman Belanda akan dibuat sebuah lapangan terbang. Karena menurut ceritanya pada jaman tersebut Belanda berencana untuk membuat penangkarang rusa di lokasi ini dan dagingnya akan di bawa dengan menggunakan pesawat terbang. Akan tetapi ternyata rencana tersebut belum terwujud mereka sudah keburu menyerah kepada Jepang.

Di Cikasur ini terdapat sebuah pondok kecil yang bisa memuat sekitar sepuluh orang, dan kembali kami dihadapkan dengan masalah susahnya mencari areal untuk mendirikan tenda karena keadaan padang rumput yang cukup tebal dan membuatnya tidak rata. Setelah membicarakannya dengan teman-teman akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di jalan setapak yang lebar, jalan ini menurut informasi terkini merupakan jalan untuk motor ojek orang kampung Baderan yang datang untuk mengambil daun selada air. Hal ini cukup membuat kami berharap semoga alam asli gunung Argopuro ini tidak sampai tercemar. Tenda kami berdiri berjejer di gigiran jalan disebuah punggungan yang menghadap kea rah sungai kecil Cikasur. Dari posisi kami mendirikan tenda kami bisa memandang lepas kearah sungai, "Hei ada dua ekor burung merak yang lagi minum noh..." teriak Toto sembari meunjuk kearah hilir sungai dan memang disana terlihat dua ekor burung merak yang tengah minum.

"Kerjasama tim yang kompak.." ujar saya mengomentari hasil kerja teman-teman yang mendirikan dapur umum. Semua sibuk dengan tugas masing-masing dan sayapun kebagian tugas memasak nasi. Empat kompor trangia menyala serentak memeriahkan acara masak bareng-bareng ini, dan seperti rencana semula menu malam ini bakal dimeriahkan dengan menu tambahan tumis sayur daun selada air yang dipetik oleh Toto dan Dasmir sore tadi. Selesai makan tidak banyak kegiatan teman-teman mereka segera terlelap dibuai mimpi masing-masing. Saya didalam tenda memindahkan data waypoint GPS ke peta topo yang saya bawa dan akhirnya tidak bertahan lama juga karena rasa kantuk yang menyerang dan akhirnyapun saya menyerah terlelap dalam dekapan malam di Cikasur.

Pagi menjelang, karena posisi camp kami diatas punggungan maka sinar matahari cepat sekali mengenai tenda. Seperti rencana semula, kami akan melanjutkan perjalanan sepagi mungkin, tapi rencana tinggal rencana akhirnya kami mulai bergerak sekitar jam 8 pagi. Perjalanan hari ini adalah merupakan etape terakhir dalam perjalanan pendakian Argopuro ini, saya berharap teman-teman semuanya bisa mencapai Barderan sebelum malam hari. Hal yang membuat saya berharap demikian adalah jika kemalaman saat melewati perladangan penduduk ada kemungkinan teman-teman yang baru mendaki gunung ini akan kesasar karena diperladangan tersebut banyak sekali jalan bercabang yang menyesatkan. Pada teman-teman yang berjalan paling duluan, saya menyarankan jika nanti saat memasuki Baderan ternyata hari telah gelap maka yang jalan paling depan agar menunggu teman-teman yang lain dan setelah itu berbarengan bersama-sama memasuki Baderan agar tidak ada yang tercecer.

Di perjalanan hari ini kembali kami disuguhkan dengan beberapa padang rumput yang luas dan setelah melewati savanna terakhir jalan setapak kembali menanjak karena kami harus melewati sebuah bukit dan setelah itu jalan setapak terus berada diatas punggungan yang kiri kanannya jurang. Sekitar jam dua siang kami sampai di perladangan penduduk dan tak lama kemudian kami melihat rombongan yang paling didepan tadi yaitu Hendri SP dan beberapa orang porter tengah beristirahat di rumah penduduk sembari menikmati jagung rebus suguhan petani tersebut. Mhmmm… nikmat sekali, perut yang cukup lapar karena hari ini tidak sempat istirahat makan siang tadi segera terisi dengan jagung rebus yang manis dan nikmat. Saya cukup surprise juga karena beberapa teman yang fisiknya mulai agak lemah ternyata bisa cepat sampai di perladangan penduduk ini. Sementara yang belum terlihat adalah rombongan sweaper Risky CS dan dua orang teman dari Jogja yaitu Pram dan Indra. Setelah menunggu cukup lama akhirnya teman-teman meminta untuk menunggu di desa Baderan saja, saya melirik jam tangan ternyata sudah jam 3 sore. Akhirnya kami pun segera bergerak turun ke Baderan, saya yakin dengan rombongan dibelakang yang merupakan pendaki gunung yang bukan baru sekali mendaki gunung, pasti mereka tidak akan bermasalah dengan jalur, batin saya. Sekitar jam setengah lima sore kami memasuki desa Baderan, dan beristirahat di sebuah warung, semula kami berencana untuk menginap di Baderan tetapi karena tidak ada penginapan dan juga rumah atau kantor KSDA yang semula kami kira masih tidak ditempati, akan tetapi ternyata sekarang sudah ditempati oleh kepala KSDA yang baru. Jadi jumlah kami yang 23 orang ini tidak akan muat disana. Sekitar jam 7 malam akhirnya semua rombongan berkumpul, dan kami langsung turun ke Besuki, hanya teman-teman dari Surabaya yang memutuskan untuk menginap di Baderan malam itu.

Akhirnya malam ini kami bisa juga tidur di kasur empuk setelah selama empat malam kami tidur di tenda, hotel yang kami dapat posisinya berada dipinggir jalan. Setelah mandi dan makan malam kami segera terlelap, besok mba Endah, Pram, Indra dan Pak Denny akan duluan ke Surabaya untuk mengejar pesawat pagi. Sedangkan kami akan kembali naik kereta Bima pulang menuju Jakarta………